Mereka-reka Mereka

Semua manusia akan tiba disuatu masa yang mengembalikannya pada siapa yang mereka sebut keluarga. Karena apa? Pada akhirnya yang akan benar-benar menerima dengan lapang dada sebagaimana apa adanya diri ya mereka, yang tidak akan pernah menusuk dengan pisau pengkhianatan ya mereka, yang selalu berdiri tegap dan dengan sigap membukakan pintu “rumah” dan maaf dengan tangan terbuka ya mereka! yang akan memeluk didasar jurang keputusasan dan berdiri sigap didalam bingkai foto kelulusan, sekali lagi mereka.

Mereka tak akan pernah mempunyai alasan untuk meninggalkan. Mereka yang dengan suka rela memberi doa dan tak ada habisnya memberi uluran tangan dimasa kini dan nanti. Mereka memang tak pernah menjajikan apa-apa, hanya selalu berupaya memberi yang terbaik dari yang mereka punya.

…..tetapi ego dalam diri sering kali membutakan manusia untuk menomor sekian kan mereka. Sungguh, sampai nanti orang demi orang yang kalian nomor satukan menukarnya dengan apa yang kita sebut luka. Luka yang membuat lemas disekujur kaki dan nyeri diulu hati.

Tia sayang pap, mam, mba ay, dina!

Iklan

Surat Keluarga

Berawal disore yang mendung ini fikiranku seperti meracau, menerawang jauh bergerak statis kebelakang dan kedepan.

Sendu? Tidak tahu..
Yang terlintas hanya orang-orang beserta kejadiannya dimasa itu. Aku seperti dibujuk untuk menaruh ego-ku yang menuntunku bangkit kembali berjalan dengan mengimbangi semua. Entah resah dan lelah macam apalagi yang akan kutulis didalam sini, aku hanya mencoba untuk tetap menulis dan menulis; pun tak mencoba mendramatisir. Jiwa ini seperti mengingini sesuatu yang ku tak tahu pasti apa. Otak ini gagal mencerna sinyal yang dikirim oleh syaraf-syarafnya. Bukan aku kehabisan cara menikmati hari dihidup ini, sebentar…biar ku tebak, mungkin begini, aku hanya sedang berada didalam sebuah fase merindukan sesuatu. Suatu masa. Bukan orang-per-seorang.

Aku sedang berusaha memacu laju fase dalam hidupku kini. dan aku sedang berusaha meninggalkan mereka yang selama ini aku nomer pertamakan, karna ternyata baru kusadari begitu banyak kesalahan disini yang kutemui. Pada akhirnya, apapun, akan mengembalikan manusia kepada siapa yang mempunyai hubungan darah kemudian sendiri dititik akhir hidupnya. Setelah semua yang dialami, aku selalu menemui; yoi. Gue pernah menomor satukan temen dan menomor duakan keluarga, tapi ternyata gue salah.

Berapa kali terpuruk dalam hidup?
Berapa kali mereka selalu ada disana?
Tolong, pikir kembali
dan coba resapi.

Remahan Kue Nastar Lebaran

Sepagi ini dadaku terasa begitu sesak.. kalau kugambarkan, rasanya seperti duri yang tak sengaja kutelan mentah-mentah begitu saja. Aku kesal! Tiap kali mengingat satu mantan ku ini, jika ada satu tombol untuk memungkiri lalu menghapusnya bersih-bersih dari memori, sungguh akan ku tekan dengan senang hati. Mengingatnya saja membuatku (maaf) mual bahkan sering kali jijik. Kebiasaannya yang selalu ingin mengetahui bagaimana aku dan caraku dengan terang-terangan tidak elegan sangat teramat membuat aku risih.

Ulah nya menyalin semua musik yang aku dengar, apa yang aku suka; apapun. Aku menyesal pernah bersamanya lalu membiarkannya mengenal apa-apa yang aku suka.

Sebenarnya aku tak ingin menuliskan apapun tentangnya didalam blog ini. Apapun. tetapi kali ini aku benar-benar muak dengan dia yang tak seberapa dan gaya parlentenya. Yah… sudahlah aku menganggapnya tak lebih dari remahan kue nastar lebaran.

Resep Bahagia

Aku hanya sedang ingin merayakan hidupku kini dengan pergi ke sebuah nightclub atau festival electronic dance music lalu melepas kontrol dalam diri. atau mungkin sesederhana pergi membeli nasi padang isi rendang beserta kerupuk udang dan es tehnya lalu menikmati hisapan lintingan tembakau yang kubakar sembari menyumpal telinga dengan dentuman electronic dance music dan merasakan getar euforianya.

Begitulah kiranya cara yang telah dan selalu ingin kunikmati dihari-hariku kini,
untuk aku menjadi lebih bahagia setelahnya.

Bagaimana dengan takaran dalam resep yang kalian punya?
Cukup atau berlebih kah?
atau..
bahkan belum menemukan selera cita rasanya?
Cobalah beri perbanyak ruang kesempatan bahagia untuk diri,
Selamat mencari!

Salam,

Bahagia dalam raga ini

Untukmu yang Selalu Ada Lalu Tiada

Y: Dek ais aku minta maaf klo yg dlu-dlu banyak salah tolong dimaafin ya
A: Loh kenapa minta maaf? Dibajak siapa deh
Y: Ga dibajak
A: Aneh2x aja
Y: Gpp biar lega aaja aku
A: Oh mau skripsi
Y: Bukan
Mau cari jodoh

A: Gagal paham
tapi gluck yo

Y: Oke ais

Persis begitulah percakapan yang membuat tanganku gemetar membacanya dan otakku berfikir keras hingga kini. Aku sedang mengira-ngira apa maksud dan tujuanmu setelah tak lebih dari setahun lalu kamu mempermainkan aku kemudian malam ini kamu datang dan kembali memulai debar resahku. Pecundang macam apa kamu ini?

Aku tak mau kembali pada apa yang aku rasa setahun lalu. Aku juga tak mau kembali pada bahagia sesaat yang kamu beri. Katakan, apa yang sebenarnya kamu ingini?

Entah bagaimana semesta memberi pertanda..aku jadi teringat ketika dikisaran akhir September-awal Oktober saat malam itu aku sedang mencoba untuk memulai babak baru, kamu menjadi rajin menyapaku ditiap pagi dan harimu. Kamu kembali berhasil merobohkan dinding pertahanan itu. Aku pun tak terelakkan dari tiap godaan, gurauan, caci-makian, dan getaran makna percakapan. Kemudian kamu jalani harimu, aku jalani hariku. Kita berjalan sendiri, lupa diri.

Alasan klasik macam apa yang kamu pakai untuk memulai percakapan dalam rangka permintaan maaf malam tadi? Mencari jodoh, katamu? Apa hubungan mencari jodoh dan permintaan maaf padaku? Sir, jika ada maksud dan tujuan dari ini semua, bisakah kamu untuk ada dan terus selalu ada?

Ada yang Salah, Katanya

Aku sama sekali buntu,
Ketika bertanya dalam hati; kepada siapa aku benar-benar menjadi diri ini
Terkadang aku juga ingin seperti mereka,
Menceritakan keluh kesahnya kepada sesama sembari menangis tersedu-sedan
Tetapi sayangnya aku tak mampu
Yang selama ini mampu kulakukan hanyalah
Mengunci pintu kamar ini, bersimpuh dan menikmati diri dalam kepalan memori
Tak lebih dari jari tangan ini untuk menghitung jumlah momen bahagia yang kurayakan dengan-Mu

Aku bosan rutin menelan pil kepura-pura bahagiaan

Diatas segala apa yang mereka sebut normal dan seperti kebanyakan, aku muak Tuhan..
Entah apa ada yang salah dengan caraku tumbuh dewasa lalu menua