Saya Jatuh Cinta

Selama 23 tahun engga satu kalipun saya bisa merasakan jatuh cinta sama anak kecil.. yah.. pernah sih.. tapi hanya bertahan sekitar 5 menit, dan sisa waktunya dihabiskan untuk berfikir bagaimana cara melarikan diri dari mereka.
menurut saya anak kecil yang benar-bebar menggemaskan adalah anak kecil yang diem, anteng, ga banyak gaya.. karena terus terang, semakin orang merasa anak kecil yang centil itu lucu, semakin pula saya berusaha nahan kaki agar tidak menendangnya.
walau yang saya lakukan hanya memandangi mereka.. tapi bener kok.. cuma memandangi.. kalau yg melihat merasa saya melotot.. yah bukan salah saya.. salah dia..
HAHAHA..
sampai suatu waktu, sekitar satu bulan yang lalu, saya mendapatkan
“Maheswara Nafizidny Wibisono”
dia begitu mungil, begitu kecil, begitu sedarah dengan saya… aaahak!
ketika berada di sisinya.. saya membisikan…

“Mahes, kamu adalah bayi nomor 1 dihati ate” 

sewaktu Mahes berumur beberapa hari, saya selalu berusaha membantu.. berusaha ini maksudnya beneran berusaha.. berusaha membantu Yangti memilihkan baju yang menggemaskan di Baby’s shop misalnya.
meskipun ate jarang di rumah, Yangkung & Yangti rutin mengirim fotomu ko. Mahes jangan khawatir ate siap menemanimu tumbuh dewasa.
hehe Mahes makin menggemaskan ya..FB_IMG_1502304717768
Mahes, saat kamu besar nanti, kamu harus tau, kalau kamu bayi pertama di hati ate.. mungkin nanti akan ada nomor 2 dan 3.. setelah ate punya anak.. tapi kamu akan tetap jadi yang pertama.
Iklan

Perempuan Dalam Pasungan

Untuk perempuan…
ah, banyak sekali ekspektasi masyarakat kita terhadap kalian
kalau perempuan belum menikah di usia 25, dipandang negatif
perempuan harus berpenampilan menarik, namun jika perempuan memakai kosmetik, dikatakan palsu hanya mementingkan penampilan luar
Terkadang bahkan jika di mata masyarakat “kurang cantik”, perempuan dianggap tak seberapa bernilai
Untuk perempuan…
Mengapa? mengapa jika kaum lawan jenismu melepaskan keperjakaannya sebelum menikah, itu bukan sebuah persoalan besar, namun jika perempuan melepaskan keperawanan sebelum menikah, dicap perempuan nakal?
“Perempuan harus menjaga diri. Perempuan adalah perhiasan yang harus disimpan dalam lemari kaca”
Ah, itu semua omong kosong, perempuan bukanlah objek!
Tubuhmu adalah milikmu, adalah hakmu sepenuhnya apa yang kau lakukan dengan tubuhmu.
ya, jika kau seorang perempuan dan kau membaca ini,
sadarkah kau, kau cantik sekali hari ini,
dan kemarin-kemarin, dan sampai kapanpun
bukan karena kulitmu putih mulus, rambutmu lurus, dan tubuhmu ramping semampai
namun karena kau perempuan.
Kau bukan warna kulitmu,
kau bukan ukuran pakaianmu
kau bukan jenis rambutmu
kau bukan perhiasan yang menempel di tubuhmu
Pikiranmu adalah kau
kepribadianmu adalah kau
kecerdasanmu adalah kau
kau adalah pesonamu
Menua lah dengan ia yang tak akan berkomentar tentang ukuran bajumu yang bertambah atau berkurang
ia yang juga tak peduli akan berapa jumlah kerutan di wajahmu
ia yang akan bertanya tentang buku yang kau baca atau tentang film yang kau tonton
ia yang akan bertanya pendapatmu tentang berita di TV hari ini
Ah, menyenangkan sekali bukan jika ada yang memandangmu tidak dari atribut luarmu
ingatlah, menjadi perempuan merupakan kesempatan terindah. Salah satu sumber seni kehidupan, sosok yang mampu menggeliatkan hidup menjadi lebih kuat dan bermartabat.
Kata siapa perempuan seutuhnya adalah mereka yang punya tubuh seperti ini, seperti itu, harus memiliki suami dan anak dan sebagainya?
Kau bisa berambut pendek atau panjang, atau bahkan tak memiliki rambut sekalipun,
dan tetap menjadi perempuan seutuhnya.
Kau bisa kurus atau gemuk, dan kau adalah perempuan seutuhnya.
Kau boleh memiliki anak, ataupun tidak, ataupun memang tidak bisa mengandung seorang anak, dan kau tetap perempuan seutuhnya.
Kau boleh memiliki suami atau tidak memiliki pasangan hidup dan kau tetap perempuan seutuhnya.
Perempuan…

Jangan pernah merasa lelah untuk menjadi bahagia dan merdeka!

Quo Vadis Pergerakan Mahasiswi Indonesia?

Sepanjang saya menjadi mahasiswi, dunia aktivisme menjadi suatu hal yang sangat seksi. Menjalankan peran sebagai perempuan sekaligus mahasiswi didalam satu tubuh kerap kali menemui labirin yang melelahkan namun tidak pernah membuat kapok untuk mencari titik temu keduanya.

Judul diatas bukan sesuatu yang dimaksudkan pertanyaan reaktif.  Judul tersebut lebih kepada pertanyaan reflektif, yang tidak memerlukan jawaban dengan untaian kata-kata yang progresif, dengan penyampaian penuh emosional. Berpuluh tahun lamanya spirit Hari Perempuan Internasional digaungkan, Hari Perempuan Pedesaan Internasional diperingati, Hari Kartini dimeriahkan, tapi kemana arah pergerakan yang sudah dilakukan oleh mahasiswi Indonesia?

Ketika membicarakan tentang peranan perempuan, tentu sangat menarik untuk menyoroti pergerakan keperempuanan organisasi mahasiswa. KOHATI Bidang Keperempuanan milik HMI, KOPRI milik PMII, Sarinah milik GMNI, Immawati milik IMM, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyaknya organisasi mahasiswa yang memberikan ruang untuk perempuan tetapi yang saya rasakan masih sedikit sekali dari mereka yang mampu menjadi intellectual organic yang menurut Gramschi adalah mereka yang tidak hanya pandai dalam keilmuan tetapi mereka yang mampu menyatu dengan masyarakat.

Fakta di lapangan pun tidak bisa dinafikan, hari ini belum ada gaung yang terdengar dari gerakan-gerakan mahasiswi yang secara aktif dan masif berkontribusi pada pembangunan masyarakat. Artinya, progresivitas gerakan ini masih belum bisa diperhitungkan, meski tentu saja bukan secara general, ini kasuistik pada beberapa ranah gerakan mahasiswa di kampus-kampus tertentu.

Hidup segan mati pun tak mau mungkin pepatah itu yang mampu mengungkapkan keadaan gerakan mahasiswi yang selama ini telah dinanti-nanti benar kehadiran dan sumbangsihnya bagi masyarakat. Mereka telah banyak disibukkan dengan urusan internal organisasi yang akhirnya berdampak pula  pada hilangnya eksistensi, pengaruh, dan kebermanfaatannya.

Organisasi keperempuanan tersebut di atas juga belum bisa menentukan tujuan serta arah gerakannya yang bisa saja membuat organisasi mengalami disorientrasi dan impotensi. Hal ini perlu menjadi koreksi kita bersama khususnya kaum perempuan yang aktif dalam wadah gerakan membangun sumber daya manusia untuk menyatukan visi dan misi, terlebih untuk mengoptimalkan agenda-agenda yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Contohnya saja dalam menyikapi persoalan ibu-ibu petani Kendeng yang dirampas hak atas tempat tinggal dan hak sosial-lingkungannya, suara para mahasiswi belum bergema di seantero kampus saya. Meskipun perjuangan itu bebas gender, namun kalau mau direflektifkan, suara mahasiswi ini belum menggema keras.

Mahasiswa sebagai agent of change, memainkan peran pentingnya dalam membangun sumber daya manusia di wilayahnya, tak terkecuali mahasiswi yang tergabung dalam wadah gerakan keperempuanan. Sekali lagi, masyarakat sangat mengharapkan fungsi dan peranan gerakan keperempuan bisa diimplementasikan secara maksimal dan dapat dirasakan lansung oleh masyarakat.

Ini harusnya menjadi perhatian khusus bagi gerakan-gerakan keperempuanan di Indonesia. Tak perlu mengeksklusifkan diri, memikirkan bagaimana caranya mendapatkan jejaring dari kalangan eksekutif ataupun kalangan legislatif. Banyak persoalan dimasyarakat yang perlu kita pikirkan dan kita selesaikan bersama-sama. Mulai dari masalah pendidikan, ekonomi masyarakat, kesehatan masyarakat dan masih banyak lagi.

Ketika gerakan keperempuanan mulai menyentuh beberapa aspek penting di masyarakat dan mampu memberdayakan kaumnya, maka sedikit demi sedikit masalah yang banyak bermunculan mulai bisa terurai dan teratasi. Bisa dibayangkan ketika organisasi-organisasi keperempuan secara aktif dan progresif melakukan peranannya, maka akan sangat mungkin akan tercipta sebuah tatanan masyarakat adil makmur yang didambakan oleh masyarakat.

Maka, sudah saatnya bagi kita kaum perempuan yang terdidik yang memiliki visi dan misi yang besar untuk bersama bahu membahu, menyatukan pemikiran, dan harus berani bertindak. Kaum perempuan adalah tiang negara. Mari kokohkan dan perkuat negara ini dengan kehadiran kita. Sudah bukan zamannya lagi untuk berjuang sendiri-sendiri. Meskipun tulisan ini adalah bentuk reflektif, namun tagline jangan diam, mari bicara, lawan bersama harus menjadi kalimat yang tertanam dalam spirit perjuangan kaum perempuan.

 

 

 

Referensi dari berbagai sumber.

Perempuan Perokok

Dalam novel Gadis Kretek, kisah Roro Mendut, rokok dijadikan sebagai simbol kebebasan dan tanda pemberontakan; atas sistem patriaki dan misoginis. Betapa dangkal isi kepala seseorang yang melabeli perempuan perokok itu “perempuan nakal” bahkan “murahan”, tidak kah bisa mereka lihat filosofi yang positif? Bahwa perempuan yang merokok merupakan salah satu bentuk pemberontakan atas ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan.

Rokok bukanlah parameter baik buruknya seseorang. Ya, rokok memang merugikan bagi kesehatan laki-laki dan perempuan. Rokok tidak baik  untuk siapapun; apapun jenis kelaminnya.

Saya sudah jenuh dengan mereka yang menilai karakter seorang perempuan dari rokok yang menyala di sela jari jemarinya. Mari kita sudahi “kesalahpahaman” ini. Kesalahpahaman yang mengurung kita dalam stereotip budaya yang negatif. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara atau usaha berhenti merokok untuk kesehatan diri yang lebih baik.

Berjarak 294km

Ngga pernah terbayang kita akan sedekat ini, tanpa segan menelepon untuk sekedar mengucap rindu. Kita sering bersama di tempat umum. Tempat makan, bioskop, kedai kopi, mall ngga heran orang menyangka kita ini pacaran.

Kita juga sering membahas pacaran jarak jauh. Dan aku selalu bilang kalau aku termasuk perempuan yang ngga bisa pacaran jarak jauh. Aku membutuhkan fisik, raga dan kehadiran. Telepon berjam-jam semalam suntuk, video call, chatting seharian tetap rasanya berbeda. Aku butuh raga untuk kupeluk secara nyata. Bukan cuma ucapan “Selamat pagi,” atau, “Aku rindu kamu.” Aku butuh bahu untuk bersandar setelah melewati hari yang penat. Aku butuh kehadiran yang meski sekedar menemani makan malam. Aku butuh fisik yang bisa dijangkau indera penglihatan.

Semoga aku dan kamu selalu dijauhkan dari segala yang dapat menjauhkan kita. Semoga aku dan kamu bisa saling menguatkan kita.

I love you
I will love you till I die
and if there’s life after that
I’ll stil love you then.

Stand by You

Aku tau. Aku tau kamu gelisah. Aku tau kamu risau. Namun aku tak bisa mengerti. Dan aku tidak akan bertanya. Menangislah. Marahlah. Keluarkan semua. Kenapa hanya mengirimkan kalimat panjang dalam chat untuk menuangkan perasaanmu? Itu tidak cukup. Meledaklah.

Ada debar sedih tiap kubaca isi chat mu, akhir-akhir ini. Aku mungkin tidak dapat mengukur seberapa dalam kerisauan dan keresahanmu, namun aku dapat merasakannya. Aku pun pernah mengalami masa gelap seperti itu. Kamu mungkin tidak menceritakan masalahmu secara detail pada ku namun alam bawah sadar tidak akan berhasil menyembunyikan sesuatu.

Aku mungkin jauh. Kita mungkin jauh. Tapi apa kamu tau? Do’a tidak pernah mengenal jarak. Kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Kekuatannya bahkan bisa memindahkan gunung. Jangkauannya melebihi jarak langit dan bumi. Maka hanya berdo’a yang bisa kulakukan saat ini. Mendo’akanmu. Tanganku mungkin tak bisa menyeka air matamu, mengusap punggungmu untuk menenangkan amarahmu tapi kuharap do’aku bisa. Lenganku mungkin tak bisa memelukmu, tapi kuharap do’aku bisa. Jemariku mungkin tak bisa membelai lembut rambutmu, tapi kuharap do’aku bisa.

Dunia nyata memang memisahkan kita. Ada beberapa kota yang berdiri berjajar memisahkan kamu dan aku. Tapi di dunia quanta kita saling berpelukan. Jangan terbenam dalam dunia nyata.. Seperti yang kubilang, reality is an illusion. Sebenarnya kita sedang bersatu. Kita dan berbagai harapan lainnya. Harapanmu dan harapanku. Semua saling memeluk.

Apapun yang terjadi, kemanapun kamu melangkah, dimanapun kamu berada, dan kemanapun masa depan akan membawa kita,

I’ll stand by you.

 

 

Your girl(space)friend

Mine

Tubuhku sedikit gemuk, parasku tak begitu cantik, rambutku pendek, tak pandai memakai makeup pun.

Penggemar sepak bola, penikmat kafein, gemar membaca.

Yass I am not that girly..
Hampir semua teman dekatku adalah lelaki, alasannya? Nyaman. Karena aku tidak perlu menjadi orang lain untuk diterima apa adanya diri. Tidak juga membutuhkan skenario untuk menyamarkan rasa tidak enak untuk menolak/membantah. Penilaian mereka terhadap ku begitu natural. Pun mengajariku menilai sesuatu hal dari berbagai sudut pandang. Mengajak ku keluar untuk menonton bola, bermain play station, sekedar menyecap kafein di pagi siang malam dini hari pun. Mengendap-endap keluar rumah pukul 12 malam, dan pulang menjelang subuh. Tidak. Mereka tidak mengajakku pergi mabuk-mabukan menginap di hotel freesex atau ngedrugs, kami asyik melepas penat bertukar fikir mengkritisi mendebat kebijakan menertawai kebodohan kisah cinta yang memuakkan.

Beranjak dewasa memaksaku mengkoleksi lipstick, memilih bedak yang match dengan skintone, tidak lupmakai day-night cream sunblock etc. Sebelumnya aku diajarkan untuk terbiasa memakai deodorant parfum body lotion sedari duduk di bangku sekolah dasar, disela kesibukannya kira-kira begitu cara mamah memperkenalkan bagaimana seharusnya menjadi perempuan kepada ku.

Ternyata cukup melelahkan tumbuh dan besar menjadi seorang wanita ya? Pikirku. Oh bukan aku menyesali diri karena terlahir sebagai seorang perempuan. Aku hanya merasa terbuai rasa nyaman tumbuh bersama sosok lelaki; bapak dan teman-teman lelaki. Bermain playstation membicarakan otomotif menonton club sepak bola kebanggaan menyecap kafein bebas membicarakan apa saja. Bersama mereka jauh berbeda saat bersama dengan perempuan yang saat berkumpul sebatas bergunjing perempuan lainnya, dengan hampir seluruh isi pembicaraan tentang hal-hal menye.

Merawat diri rutin aku lakukan di rumah, facemask hairmask lulur pijat. Iya anak rumahan. Politik dan feminisme adalah beberapa hal yang membuatku antusias. Sayangnya tidak semua perempuan dan sebaya ku juga tertarik. I do love girly things but I do not like to talk about it all night long. I am not that type to talk about guy all day long. See? Sah sah saja orang menganggap ku perempuan yang berbeda (baca: aneh) cause I do not even care


I enjoy being my self. 🙂