Kesarinahan sebagai Identitas Patriarki

downloadfileSatu tahun sudah saya menjejaki dunia sebagai kader GmnI Tegal. Sebuah organisasi kepemudaan di mana setiap kader khususnya perempuan harus menempati status sosial yang dikekalkan di masyarakat. Kebebasan seorang perempuan harus terbatasi oleh kebijakan yang dibuat untuk disengaja membatasi peran & pemikiran perempuan, perempuan tidak diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki yang mempunyai relasi kekuasaan yang masih dianggap absolut. Perempuan penuh mitos yang membelenggu, dimanakah harus saya taruh kemerdekaan berpikir dan berkreasi? Peran gender dalam organisasi kepemudaan ternyata juga dapat menyebabkan subordinasi terhadap perempuan dalam aktivitas organisasi. Anggapan bahwa perempuan itu irasional atau emosional menjadikan perempuan tidak bisa tampil sebagai pejuang-pemikir pemikir-pejuang dan ini berakibat pada munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang kurang penting. Subordinasi dapat terjadi dalam segala bentuk yang berbeda dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. Di GmnI Tegal misalnya, masih ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu diikutkan agenda-agenda yang bertujuan untuk merumuskan keputusan dan atau kebijakan, perempuan hanya diiikut sertakan dalam agenda yang sifatnya bersuka ria. Praktik seperti itu sesungguhnya berangkat dari pemahaman gender yang minim.

Fenomena yang saya temui saat perempuan menjajaki ruang-ruang pemikiran hanya sedikit saja orang yang mengenalnya sebagai “perempuan merdeka”, sesuai yang termaktub didalam salam perjuangannya. Latar belakang eksistensi karena teman dekat (lawan jenis) nya yang memiliki peran kuat di organisasi memaksanya dikenal dengan nama teman dekat (lawan jenis) nya, bukan namanya sendiri.

***

Terkait Bidang Kesarinahan, garis besar fungsi Kesarinahan yang saya pahami ialah wadah pengakomodiran perempuan secara pemikiran dalam GmnI yang tidak terkait dengan kekuatan politik; sebagai wadah untuk melakukan pembinaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok organisasi. Sepanjang perjalanan saya bersama GmnI Tegal hanya memiliki kegiatan yang monoton dan non inovatif. Tidak ada isu keperempuanan yang dibahas di dalamnya, tidak ada bentuk pembaharuan pemikiran yang membebaskan perempuan dari jerat ketertindasan di internal tubuh organisasinya, begitu kontradiktif dari pemahaman saya dalam memahami konteks marhaenisme secara luas.

Peran perempuan sebagai alat pelengkap dan magnet kaderisasi membawa perempuan pada arus identitas patriarki. Secakap apapun kader perempuan tidak akan menjadikan pemikirannya dipertimbangkan dalam perumusan sebuah kebijakan atau keputusan. Sebaliknya perempuan yang secara kemampuan belum memiliki keradikalan pemikiran dalam kontribusi organisasi yang memiliki relasi teman dekat (lawan jenis) dari bagian pimpinan organisasi, mendapatkan hak privilage. Dengan mendapatkan “fasilitas sosial” yang lebih baik. Jadi, jangan heran jika kegiatan Kesarinahan yang sering terlihat hanya bersifat seremonial seperti membagi bunga, tampil sebagai penyedot perhatian sebagai orator ulung, magnet kaderisasi saat masa orientasi dan pengisi kesekretariatan serta bidang konsumsi dalam struktural kepanitiaan. Penyadaran secara pemikiran akan pentingnya pemaksimalan kegiatan Kesarinahan selain kegiatan di atas seharusnya menjadi perhatian teman-teman GmnI pada umumnya.

Fenomena yang masih kerap terjadi hari ini adalah bagaimana peran dan fungsi seorang perempuan (sarinah) dianggap lebih rendah dari peran laki-laki (bung) yang mampu merasionalisasikan pendapat-pendapatnya dalam perumusan kebijakan organisasi atau penentuan sikap secara kelembagaan dianggap sebagai parameter dalam pemenuhan kebutuhan organisasi. Anggapan atas keistimewaan laki-laki sebagai pemilik kuasa tertinggi sebagai seorang pemimpin dalam organisasi yang kemudian menimbulkan penyingkiran kerja perempuan sebagai sesama kader. Bahwa kerja perempuan dalam relasi organisasi dianggap sebagai peran kedua karena fungsi domestik yang dijalankannya tidak mendapatkan prestige social seperti halnya laki-laki. Aktivitas perempuan dalam sektor domestik pada organisasi seperti GmnI seharusnya mulai dibenahi segera mungkin agar kontribusi pemikiran seorang perempuan dapat terwadahi dan terakomodir dengan baik.

***

Saya selalu mendengar di setiap pertemuan atau pergaulan di lingkup organisasi ini yang mengungkapkan bahwa laki-laki pada umumnya lebih mengutamakan logika dari pada perasaan, sedangkan perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika. Sehingga tidak jarang, perempuan dianggap tidak dapat berkontribusi secara pemikiran dalam perumusan kebijakannya. Tetapi pernahkah pembaca mempertanyakan dalil atau dasar ungkapan tersebut? Dapatkah dibuktikan secara ilmiah? Tidakkah ungkapan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah itu mengakibatkan diskriminasi dan ketidakadilan? Saya rasa ungkapan semacam itu sudah seharusnya dimasukkan dalam keranjang sampah, bukan hanya karena tidak ada pembuktian ilmiah, tetapi juga akan menimbulkan bentuk-bentuk ketidakadilan dan pembatasan hak-hak tertentu pada salah satu pihak, yaitu perempuan.

Kondisi perempuan dalam organisasi yang terkungkung dalam beban identitas patriarki membuat saya semakin gerah. Saya amat meyakini bahwa perempuan-perempuan yang bergerak pada sektor domestik merupakan nuklir dahsyat bagi negeri ini. Melihat posisi perempuan pada organisasi GmnI yang saya temui selama ini membentuk anggapan bahwa perempuan dapat saling menjatuhkan. Sehebat apapun seorang perempuan, jika mereka merupakan kawan dekat seorang Bung yang tidak memiliki kehebatan sosial maka tidak akan hebat pula kariernya di ranah sosial atau organisasi. Ini juga akan memengaruhi konsepsi akan perannya di masyarakat, pemikirannya selalu berasal dari keputusan teman dekat (lawan jenis) nya.

Peran perempuan di sebuah organisasi seperti GmnI belum dapat dikatakan sebagai tindakan yang memberdayakan secara maksimal. Penguasaan dan dominasi masih sangat dipengaruhi oleh peran domestiknya. Maka diperlukan sebuah penyadaran dan kesadaran perempuan sebagai individu untuk berusaha membebaskan dirinya secara pemikiran dari identitas patriarki yang mencengkram. Sebagaimana dikatakan Soekarno, “Dan kamu, wanita Indonesia, achirnja nasibmu adalah di tangan kamu sendiri. Saja memberi peringatan kepada kaum laki-laki untuk memberi keyakinan kepada mereka tentang hargamu dalam perdjoeangan, tetapi kamu sendiri harus mendjadi sadar, kamu sendiri harus terdjun mutlak dalam perdjoeangan”.

Merdeka!!!

Aistetia Patriandita,
Sekretaris DPK ISIP DPC GmnI Tegal

Iklan

Perempuan Dalam Pasungan

Untuk perempuan…
ah, banyak sekali ekspektasi masyarakat kita terhadap kalian
kalau perempuan belum menikah di usia 25, dipandang negatif
perempuan harus berpenampilan menarik, namun jika perempuan memakai kosmetik, dikatakan palsu hanya mementingkan penampilan luar
Terkadang bahkan jika di mata masyarakat “kurang cantik”, perempuan dianggap tak seberapa bernilai
Untuk perempuan…
Mengapa? mengapa jika kaum lawan jenismu melepaskan keperjakaannya sebelum menikah, itu bukan sebuah persoalan besar, namun jika perempuan melepaskan keperawanan sebelum menikah, dicap perempuan nakal?
“Perempuan harus menjaga diri. Perempuan adalah perhiasan yang harus disimpan dalam lemari kaca”
Ah, itu semua omong kosong, perempuan bukanlah objek!
Tubuhmu adalah milikmu, adalah hakmu sepenuhnya apa yang kau lakukan dengan tubuhmu.
ya, jika kau seorang perempuan dan kau membaca ini,
sadarkah kau, kau cantik sekali hari ini,
dan kemarin-kemarin, dan sampai kapanpun
bukan karena kulitmu putih mulus, rambutmu lurus, dan tubuhmu ramping semampai
namun karena kau perempuan.
Kau bukan warna kulitmu,
kau bukan ukuran pakaianmu
kau bukan jenis rambutmu
kau bukan perhiasan yang menempel di tubuhmu
Pikiranmu adalah kau
kepribadianmu adalah kau
kecerdasanmu adalah kau
kau adalah pesonamu
Menua lah dengan ia yang tak akan berkomentar tentang ukuran bajumu yang bertambah atau berkurang
ia yang juga tak peduli akan berapa jumlah kerutan di wajahmu
ia yang akan bertanya tentang buku yang kau baca atau tentang film yang kau tonton
ia yang akan bertanya pendapatmu tentang berita di TV hari ini
Ah, menyenangkan sekali bukan jika ada yang memandangmu tidak dari atribut luarmu
ingatlah, menjadi perempuan merupakan kesempatan terindah. Salah satu sumber seni kehidupan, sosok yang mampu menggeliatkan hidup menjadi lebih kuat dan bermartabat.
Kata siapa perempuan seutuhnya adalah mereka yang punya tubuh seperti ini, seperti itu, harus memiliki suami dan anak dan sebagainya?
Kau bisa berambut pendek atau panjang, atau bahkan tak memiliki rambut sekalipun,
dan tetap menjadi perempuan seutuhnya.
Kau bisa kurus atau gemuk, dan kau adalah perempuan seutuhnya.
Kau boleh memiliki anak, ataupun tidak, ataupun memang tidak bisa mengandung seorang anak, dan kau tetap perempuan seutuhnya.
Kau boleh memiliki suami atau tidak memiliki pasangan hidup dan kau tetap perempuan seutuhnya.
Perempuan…

Jangan pernah merasa lelah untuk menjadi bahagia dan merdeka!

Quo Vadis Pergerakan Mahasiswi Indonesia?

Sepanjang saya menjadi mahasiswi, dunia aktivisme menjadi suatu hal yang sangat seksi. Menjalankan peran sebagai perempuan sekaligus mahasiswi didalam satu tubuh kerap kali menemui labirin yang melelahkan namun tidak pernah membuat kapok untuk mencari titik temu keduanya.

Judul diatas bukan sesuatu yang dimaksudkan pertanyaan reaktif.  Judul tersebut lebih kepada pertanyaan reflektif, yang tidak memerlukan jawaban dengan untaian kata-kata yang progresif, dengan penyampaian penuh emosional. Berpuluh tahun lamanya spirit Hari Perempuan Internasional digaungkan, Hari Perempuan Pedesaan Internasional diperingati, Hari Kartini dimeriahkan, tapi kemana arah pergerakan yang sudah dilakukan oleh mahasiswi Indonesia?

Ketika membicarakan tentang peranan perempuan, tentu sangat menarik untuk menyoroti pergerakan keperempuanan organisasi mahasiswa. KOHATI Bidang Keperempuanan milik HMI, KOPRI milik PMII, Sarinah milik GMNI, Immawati milik IMM, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyaknya organisasi mahasiswa yang memberikan ruang untuk perempuan tetapi yang saya rasakan masih sedikit sekali dari mereka yang mampu menjadi intellectual organic yang menurut Gramschi adalah mereka yang tidak hanya pandai dalam keilmuan tetapi mereka yang mampu menyatu dengan masyarakat.

Fakta di lapangan pun tidak bisa dinafikan, hari ini belum ada gaung yang terdengar dari gerakan-gerakan mahasiswi yang secara aktif dan masif berkontribusi pada pembangunan masyarakat. Artinya, progresivitas gerakan ini masih belum bisa diperhitungkan, meski tentu saja bukan secara general, ini kasuistik pada beberapa ranah gerakan mahasiswa di kampus-kampus tertentu.

Hidup segan mati pun tak mau mungkin pepatah itu yang mampu mengungkapkan keadaan gerakan mahasiswi yang selama ini telah dinanti-nanti benar kehadiran dan sumbangsihnya bagi masyarakat. Mereka telah banyak disibukkan dengan urusan internal organisasi yang akhirnya berdampak pula  pada hilangnya eksistensi, pengaruh, dan kebermanfaatannya.

Organisasi keperempuanan tersebut di atas juga belum bisa menentukan tujuan serta arah gerakannya yang bisa saja membuat organisasi mengalami disorientrasi dan impotensi. Hal ini perlu menjadi koreksi kita bersama khususnya kaum perempuan yang aktif dalam wadah gerakan membangun sumber daya manusia untuk menyatukan visi dan misi, terlebih untuk mengoptimalkan agenda-agenda yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Contohnya saja dalam menyikapi persoalan ibu-ibu petani Kendeng yang dirampas hak atas tempat tinggal dan hak sosial-lingkungannya, suara para mahasiswi belum bergema di seantero kampus saya. Meskipun perjuangan itu bebas gender, namun kalau mau direflektifkan, suara mahasiswi ini belum menggema keras.

Mahasiswa sebagai agent of change, memainkan peran pentingnya dalam membangun sumber daya manusia di wilayahnya, tak terkecuali mahasiswi yang tergabung dalam wadah gerakan keperempuanan. Sekali lagi, masyarakat sangat mengharapkan fungsi dan peranan gerakan keperempuan bisa diimplementasikan secara maksimal dan dapat dirasakan lansung oleh masyarakat.

Ini harusnya menjadi perhatian khusus bagi gerakan-gerakan keperempuanan di Indonesia. Tak perlu mengeksklusifkan diri, memikirkan bagaimana caranya mendapatkan jejaring dari kalangan eksekutif ataupun kalangan legislatif. Banyak persoalan dimasyarakat yang perlu kita pikirkan dan kita selesaikan bersama-sama. Mulai dari masalah pendidikan, ekonomi masyarakat, kesehatan masyarakat dan masih banyak lagi.

Ketika gerakan keperempuanan mulai menyentuh beberapa aspek penting di masyarakat dan mampu memberdayakan kaumnya, maka sedikit demi sedikit masalah yang banyak bermunculan mulai bisa terurai dan teratasi. Bisa dibayangkan ketika organisasi-organisasi keperempuan secara aktif dan progresif melakukan peranannya, maka akan sangat mungkin akan tercipta sebuah tatanan masyarakat adil makmur yang didambakan oleh masyarakat.

Maka, sudah saatnya bagi kita kaum perempuan yang terdidik yang memiliki visi dan misi yang besar untuk bersama bahu membahu, menyatukan pemikiran, dan harus berani bertindak. Kaum perempuan adalah tiang negara. Mari kokohkan dan perkuat negara ini dengan kehadiran kita. Sudah bukan zamannya lagi untuk berjuang sendiri-sendiri. Meskipun tulisan ini adalah bentuk reflektif, namun tagline jangan diam, mari bicara, lawan bersama harus menjadi kalimat yang tertanam dalam spirit perjuangan kaum perempuan.

 

 

 

Referensi dari berbagai sumber.

Perempuan Perokok

Dalam novel Gadis Kretek, kisah Roro Mendut, rokok dijadikan sebagai simbol kebebasan dan tanda pemberontakan; atas sistem patriaki dan misoginis. Betapa dangkal isi kepala seseorang yang melabeli perempuan perokok itu “perempuan nakal” bahkan “murahan”, tidak kah bisa mereka lihat filosofi yang positif? Bahwa perempuan yang merokok merupakan salah satu bentuk pemberontakan atas ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan.

Rokok bukanlah parameter baik buruknya seseorang. Ya, rokok memang merugikan bagi kesehatan laki-laki dan perempuan. Rokok tidak baik  untuk siapapun; apapun jenis kelaminnya.

Saya sudah jenuh dengan mereka yang menilai karakter seorang perempuan dari rokok yang menyala di sela jari jemarinya. Mari kita sudahi “kesalahpahaman” ini. Kesalahpahaman yang mengurung kita dalam stereotip budaya yang negatif. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara atau usaha berhenti merokok untuk kesehatan diri yang lebih baik.

We All Start As Stranger

Nemu jodoh…
Wait! Jodoh?
Disaat saya boro-boro memikirkan jodoh, justru saat itu Tuhan beri jalan untuk mengenal seseorang dengan lebih dalam.

Oh, bukan..
Mungkin begini,
Tuhan membukakan pintu hati saya untuk seseorang.
Tuhan benar-benar Maha Mengagetkan. Maha tidak terduga,


dalam perjalanan pulang dari perantauan dengan rambut lepek muka berminyak lipstick memudar snikers belepotan setelan baju ala kadarnya didalam rangkaian gerbong kereta, seseorang itu duduk tepat satu bangku dengan saya dengan tempat tujuan yang sama.

Rendah Dalam Sujud

Bukankah aku sudah cukup terlatih?
Bukankah aku sudah cukup dibanting-banting laksana bergulat dengan gulungan gelombang pasang dalam menjalani hidup?

Satu yang selalu ku tekan kan dalam diri,
Merendah sampai berada di titik terendah sampai tiada lagi yang bisa merendahkan.

Jika tidak ada bahu untuk bersandar,
Selalu ada lantai untuk bersujud.

Bukan untuk menengadah pada-Nya untuk meringankan berat beban
Hanya tersedu sedan agar Ia menguatkan pundak untuk ku pikul segala cobaan 

Yang Ke-20

Teruntuk
Pemilik raga ini,

Selamat Ulang Tahun yang ke-20, semoga pemilik raga ini semakin dapat bersyukur atas segala nikmat-Nya. Semakin dapat “melihat kebawah”. Semakin dapat menjadi pribadi yang lebih dekat dengan-Nya. dan semakin dekat dengan segala apa yang telah dicita-citakan. Amin

Ditahun ke-20 ini semoga semakin berusaha untuk memperbaiki kesalahan dan kekhilafan yang pernah ada. Terimakasih Tuhan.. atas segala limpahan berkah-Mu. Semoga semakin dimantapkan imannya, tuntunlah pemilik raga ini agar tetap senantiasa berada dijalan-Mu. Sekali lagi, amin

10 April 2014