Perempuan Dalam Pasungan

Untuk perempuan…
ah, banyak sekali ekspektasi masyarakat kita terhadap kalian
kalau perempuan belum menikah di usia 25, dipandang negatif
perempuan harus berpenampilan menarik, namun jika perempuan memakai kosmetik, dikatakan palsu hanya mementingkan penampilan luar
Terkadang bahkan jika di mata masyarakat “kurang cantik”, perempuan dianggap tak seberapa bernilai
Untuk perempuan…
Mengapa? mengapa jika kaum lawan jenismu melepaskan keperjakaannya sebelum menikah, itu bukan sebuah persoalan besar, namun jika perempuan melepaskan keperawanan sebelum menikah, dicap perempuan nakal?
“Perempuan harus menjaga diri. Perempuan adalah perhiasan yang harus disimpan dalam lemari kaca”
Ah, itu semua omong kosong, perempuan bukanlah objek!
Tubuhmu adalah milikmu, adalah hakmu sepenuhnya apa yang kau lakukan dengan tubuhmu.
ya, jika kau seorang perempuan dan kau membaca ini,
sadarkah kau, kau cantik sekali hari ini,
dan kemarin-kemarin, dan sampai kapanpun
bukan karena kulitmu putih mulus, rambutmu lurus, dan tubuhmu ramping semampai
namun karena kau perempuan.
Kau bukan warna kulitmu,
kau bukan ukuran pakaianmu
kau bukan jenis rambutmu
kau bukan perhiasan yang menempel di tubuhmu
Pikiranmu adalah kau
kepribadianmu adalah kau
kecerdasanmu adalah kau
kau adalah pesonamu
Menua lah dengan ia yang tak akan berkomentar tentang ukuran bajumu yang bertambah atau berkurang
ia yang juga tak peduli akan berapa jumlah kerutan di wajahmu
ia yang akan bertanya tentang buku yang kau baca atau tentang film yang kau tonton
ia yang akan bertanya pendapatmu tentang berita di TV hari ini
Ah, menyenangkan sekali bukan jika ada yang memandangmu tidak dari atribut luarmu
ingatlah, menjadi perempuan merupakan kesempatan terindah. Salah satu sumber seni kehidupan, sosok yang mampu menggeliatkan hidup menjadi lebih kuat dan bermartabat.
Kata siapa perempuan seutuhnya adalah mereka yang punya tubuh seperti ini, seperti itu, harus memiliki suami dan anak dan sebagainya?
Kau bisa berambut pendek atau panjang, atau bahkan tak memiliki rambut sekalipun,
dan tetap menjadi perempuan seutuhnya.
Kau bisa kurus atau gemuk, dan kau adalah perempuan seutuhnya.
Kau boleh memiliki anak, ataupun tidak, ataupun memang tidak bisa mengandung seorang anak, dan kau tetap perempuan seutuhnya.
Kau boleh memiliki suami atau tidak memiliki pasangan hidup dan kau tetap perempuan seutuhnya.
Perempuan…

Jangan pernah merasa lelah untuk menjadi bahagia dan merdeka!

Iklan

Quo Vadis Pergerakan Mahasiswi Indonesia?

Sepanjang saya menjadi mahasiswi, dunia aktivisme menjadi suatu hal yang sangat seksi. Menjalankan peran sebagai perempuan sekaligus mahasiswi didalam satu tubuh kerap kali menemui labirin yang melelahkan namun tidak pernah membuat kapok untuk mencari titik temu keduanya.

Judul diatas bukan sesuatu yang dimaksudkan pertanyaan reaktif.  Judul tersebut lebih kepada pertanyaan reflektif, yang tidak memerlukan jawaban dengan untaian kata-kata yang progresif, dengan penyampaian penuh emosional. Berpuluh tahun lamanya spirit Hari Perempuan Internasional digaungkan, Hari Perempuan Pedesaan Internasional diperingati, Hari Kartini dimeriahkan, tapi kemana arah pergerakan yang sudah dilakukan oleh mahasiswi Indonesia?

Ketika membicarakan tentang peranan perempuan, tentu sangat menarik untuk menyoroti pergerakan keperempuanan organisasi mahasiswa. KOHATI Bidang Keperempuanan milik HMI, KOPRI milik PMII, Sarinah milik GMNI, Immawati milik IMM, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyaknya organisasi mahasiswa yang memberikan ruang untuk perempuan tetapi yang saya rasakan masih sedikit sekali dari mereka yang mampu menjadi intellectual organic yang menurut Gramschi adalah mereka yang tidak hanya pandai dalam keilmuan tetapi mereka yang mampu menyatu dengan masyarakat.

Fakta di lapangan pun tidak bisa dinafikan, hari ini belum ada gaung yang terdengar dari gerakan-gerakan mahasiswi yang secara aktif dan masif berkontribusi pada pembangunan masyarakat. Artinya, progresivitas gerakan ini masih belum bisa diperhitungkan, meski tentu saja bukan secara general, ini kasuistik pada beberapa ranah gerakan mahasiswa di kampus-kampus tertentu.

Hidup segan mati pun tak mau mungkin pepatah itu yang mampu mengungkapkan keadaan gerakan mahasiswi yang selama ini telah dinanti-nanti benar kehadiran dan sumbangsihnya bagi masyarakat. Mereka telah banyak disibukkan dengan urusan internal organisasi yang akhirnya berdampak pula  pada hilangnya eksistensi, pengaruh, dan kebermanfaatannya.

Organisasi keperempuanan tersebut di atas juga belum bisa menentukan tujuan serta arah gerakannya yang bisa saja membuat organisasi mengalami disorientrasi dan impotensi. Hal ini perlu menjadi koreksi kita bersama khususnya kaum perempuan yang aktif dalam wadah gerakan membangun sumber daya manusia untuk menyatukan visi dan misi, terlebih untuk mengoptimalkan agenda-agenda yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Contohnya saja dalam menyikapi persoalan ibu-ibu petani Kendeng yang dirampas hak atas tempat tinggal dan hak sosial-lingkungannya, suara para mahasiswi belum bergema di seantero kampus saya. Meskipun perjuangan itu bebas gender, namun kalau mau direflektifkan, suara mahasiswi ini belum menggema keras.

Mahasiswa sebagai agent of change, memainkan peran pentingnya dalam membangun sumber daya manusia di wilayahnya, tak terkecuali mahasiswi yang tergabung dalam wadah gerakan keperempuanan. Sekali lagi, masyarakat sangat mengharapkan fungsi dan peranan gerakan keperempuan bisa diimplementasikan secara maksimal dan dapat dirasakan lansung oleh masyarakat.

Ini harusnya menjadi perhatian khusus bagi gerakan-gerakan keperempuanan di Indonesia. Tak perlu mengeksklusifkan diri, memikirkan bagaimana caranya mendapatkan jejaring dari kalangan eksekutif ataupun kalangan legislatif. Banyak persoalan dimasyarakat yang perlu kita pikirkan dan kita selesaikan bersama-sama. Mulai dari masalah pendidikan, ekonomi masyarakat, kesehatan masyarakat dan masih banyak lagi.

Ketika gerakan keperempuanan mulai menyentuh beberapa aspek penting di masyarakat dan mampu memberdayakan kaumnya, maka sedikit demi sedikit masalah yang banyak bermunculan mulai bisa terurai dan teratasi. Bisa dibayangkan ketika organisasi-organisasi keperempuan secara aktif dan progresif melakukan peranannya, maka akan sangat mungkin akan tercipta sebuah tatanan masyarakat adil makmur yang didambakan oleh masyarakat.

Maka, sudah saatnya bagi kita kaum perempuan yang terdidik yang memiliki visi dan misi yang besar untuk bersama bahu membahu, menyatukan pemikiran, dan harus berani bertindak. Kaum perempuan adalah tiang negara. Mari kokohkan dan perkuat negara ini dengan kehadiran kita. Sudah bukan zamannya lagi untuk berjuang sendiri-sendiri. Meskipun tulisan ini adalah bentuk reflektif, namun tagline jangan diam, mari bicara, lawan bersama harus menjadi kalimat yang tertanam dalam spirit perjuangan kaum perempuan.

 

 

 

Referensi dari berbagai sumber.

Perempuan Perokok

Dalam novel Gadis Kretek, kisah Roro Mendut, rokok dijadikan sebagai simbol kebebasan dan tanda pemberontakan; atas sistem patriaki dan misoginis. Betapa dangkal isi kepala seseorang yang melabeli perempuan perokok itu “perempuan nakal” bahkan “murahan”, tidak kah bisa mereka lihat filosofi yang positif? Bahwa perempuan yang merokok merupakan salah satu bentuk pemberontakan atas ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan.

Rokok bukanlah parameter baik buruknya seseorang. Ya, rokok memang merugikan bagi kesehatan laki-laki dan perempuan. Rokok tidak baik  untuk siapapun; apapun jenis kelaminnya.

Saya sudah jenuh dengan mereka yang menilai karakter seorang perempuan dari rokok yang menyala di sela jari jemarinya. Mari kita sudahi “kesalahpahaman” ini. Kesalahpahaman yang mengurung kita dalam stereotip budaya yang negatif. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara atau usaha berhenti merokok untuk kesehatan diri yang lebih baik.

Mine

Tubuhku sedikit gemuk, parasku tak begitu cantik, rambutku pendek, tak pandai memakai makeup pun.

Penggemar sepak bola, penikmat kafein, gemar membaca.

Yass I am not that girly..
Hampir semua teman dekatku adalah lelaki, alasannya? Nyaman. Karena aku tidak perlu menjadi orang lain untuk diterima apa adanya diri. Tidak juga membutuhkan skenario untuk menyamarkan rasa tidak enak untuk menolak/membantah. Penilaian mereka terhadap ku begitu natural. Pun mengajariku menilai sesuatu hal dari berbagai sudut pandang. Mengajak ku keluar untuk menonton bola, bermain play station, sekedar menyecap kafein di pagi siang malam dini hari pun. Mengendap-endap keluar rumah pukul 12 malam, dan pulang menjelang subuh. Tidak. Mereka tidak mengajakku pergi mabuk-mabukan menginap di hotel freesex atau ngedrugs, kami asyik melepas penat bertukar fikir mengkritisi mendebat kebijakan menertawai kebodohan kisah cinta yang memuakkan.

Beranjak dewasa memaksaku mengkoleksi lipstick, memilih bedak yang match dengan skintone, tidak lupmakai day-night cream sunblock etc. Sebelumnya aku diajarkan untuk terbiasa memakai deodorant parfum body lotion sedari duduk di bangku sekolah dasar, disela kesibukannya kira-kira begitu cara mamah memperkenalkan bagaimana seharusnya menjadi perempuan kepada ku.

Ternyata cukup melelahkan tumbuh dan besar menjadi seorang wanita ya? Pikirku. Oh bukan aku menyesali diri karena terlahir sebagai seorang perempuan. Aku hanya merasa terbuai rasa nyaman tumbuh bersama sosok lelaki; bapak dan teman-teman lelaki. Bermain playstation membicarakan otomotif menonton club sepak bola kebanggaan menyecap kafein bebas membicarakan apa saja. Bersama mereka jauh berbeda saat bersama dengan perempuan yang saat berkumpul sebatas bergunjing perempuan lainnya, dengan hampir seluruh isi pembicaraan tentang hal-hal menye.

Merawat diri rutin aku lakukan di rumah, facemask hairmask lulur pijat. Iya anak rumahan. Politik dan feminisme adalah beberapa hal yang membuatku antusias. Sayangnya tidak semua perempuan dan sebaya ku juga tertarik. I do love girly things but I do not like to talk about it all night long. I am not that type to talk about guy all day long. See? Sah sah saja orang menganggap ku perempuan yang berbeda (baca: aneh) cause I do not even care


I enjoy being my self. 🙂

We All Start As Stranger

Nemu jodoh…
Wait! Jodoh?
Disaat saya boro-boro memikirkan jodoh, justru saat itu Tuhan beri jalan untuk mengenal seseorang dengan lebih dalam.

Oh, bukan..
Mungkin begini,
Tuhan membukakan pintu hati saya untuk seseorang.
Tuhan benar-benar Maha Mengagetkan. Maha tidak terduga,


dalam perjalanan pulang dari perantauan dengan rambut lepek muka berminyak lipstick memudar snikers belepotan setelan baju ala kadarnya didalam rangkaian gerbong kereta, seseorang itu duduk tepat satu bangku dengan saya dengan tempat tujuan yang sama.

Rendah Dalam Sujud

Bukankah aku sudah cukup terlatih?
Bukankah aku sudah cukup dibanting-banting laksana bergulat dengan gulungan gelombang pasang dalam menjalani hidup?

Satu yang selalu ku tekan kan dalam diri,
Merendah sampai berada di titik terendah sampai tiada lagi yang bisa merendahkan.

Jika tidak ada bahu untuk bersandar,
Selalu ada lantai untuk bersujud.

Bukan untuk menengadah pada-Nya untuk meringankan berat beban
Hanya tersedu sedan agar Ia menguatkan pundak untuk ku pikul segala cobaan 

Yang Ke-20

Teruntuk
Pemilik raga ini,

Selamat Ulang Tahun yang ke-20, semoga pemilik raga ini semakin dapat bersyukur atas segala nikmat-Nya. Semakin dapat “melihat kebawah”. Semakin dapat menjadi pribadi yang lebih dekat dengan-Nya. dan semakin dekat dengan segala apa yang telah dicita-citakan. Amin

Ditahun ke-20 ini semoga semakin berusaha untuk memperbaiki kesalahan dan kekhilafan yang pernah ada. Terimakasih Tuhan.. atas segala limpahan berkah-Mu. Semoga semakin dimantapkan imannya, tuntunlah pemilik raga ini agar tetap senantiasa berada dijalan-Mu. Sekali lagi, amin

10 April 2014