Jodoh dan Ironi

Belakangan, saya melihat makin banyak campaign atau dakwah bagi para perempuan dan laki-laki lajang untuk menikah muda. Ya walaupun sebenarnya sudah ada dari dulu, tapi keberadaan media sosial makin menggencarkan dakwah itu. Setelah membaca-baca, ada satu kata kunci yang pasti selalu hadir di sana, “jodoh.” Saya heran kenapa kata ini melulu dikaitkan dengan pernikahan atau hubungan heteroseksual. Suatu hari saya berbincang dengan seorang teman, ia bertanya, “Kayaknya aku sama dia [pacarnya] jodoh deh. Menurut kamu gimana?” Saya menjawab singkat, “Mungkin.”Dulu, saya dan mungkin sebagian besar orang masih menganggap konsep jodoh adalah konsep yang ‘udah dari sananya.’ Sebuah konsep di mana perempuan dan laki-laki diikat dalam ikrar suci pernikahan. Maka, orang-orang tua zaman dulu pasti sering berkata, “mereka itu emang jodoh” yang maksudnya si laki-laki dan perempuan sudah menjalani pernikahan dan menjadi suami istri. Konsep ini masih saya terima hingga suatu ketika saya memikirkan tentang adanya perceraian. Pikir saya saat itu kalau jodoh diartikan sebagai laku pernikahan, maka apakah mereka hanya berjodoh sebelum bercerai? Jadi kalau bercerai, berarti sudah tidak berjodoh lagi? Dan konsep jodoh pasti dikaitkan dengan satu perempuan dengan satu laki-laki. Jodoh berarti: tunggal. Tidak mungkin ada jodoh yang jamak. Saya kemudian berpikir lagi, kalau setelah bercerai dan menikah lagi, apakah berarti jodoh dia ada dua? Yang mana yang benar-benar jodoh? Pernikahan sebelum bercerai atau setelahnya?

Pertanyaan ini akhirnya memaksa saya untuk merenung. Saya ingin mendapatkan jodoh dalam artian sesungguhnya. Suatu waktu usai berdiskusi dengan dosen di salah satu institut keagamaan saya mendapatkan pekerjaan rumah untuk memahami kembali ayat yang intinya kira-kira berbunyi, “Dialah yang menciptakan langit dan bumi, siang dan malam.” Setelah itu saya merenung lagi, memikirkan bintang-bintang, galaksi, pejalan kaki di lampu merah, penjual es kelapa, gedung-gedung tinggi, semut-semut yang mengerubungi gula, denyut jantung, sel-sel tubuh dan lalu tiba-tiba terpikirkan,

“Gila! Luas betul alam semesta ini”

Dari sanalah saya semacam merasa mendapat pencerahan tentang tafsir jodoh ini. Saya yakin semuanya pasti berjodoh, mulai dari yang paling mikro sampai paling makro. Orang tua-orang tua kita juga sering mengatakan ini, “Ya kalau emang jodoh, rezeki pasti dateng ke kita.” Ya, rezeki pun juga jodoh. Artinya, jodoh adalah saat di mana A bertemu B. Sebuah Pertemuan. Ah, itu dia: Pertemuan!

Pertemuan artinya bukan sekadar bertemu, tatap muka, atau bercengkerama. Tapi Pertemuan (dengan P besar) membuat saya terkait erat dengan satu hal: Waktu. Di sini kita perlu berterima kasih banyak kepada Einstein yang menemukan konsep relativitas waktu. Dengan penemuannya ini, Einstein mematahkan teori Newton sebelumnya mengenai kemutlakan ruang dan waktu. Berbeda dengan pendahulunya itu, Einstein bilang ruang dan waktu itu relatif dan tak terpisah. Dari sana, ia berkesimpulan bahwa alam semesta ini terus mengembang. Karena terus mengembang, suatu saat pasti akan sampai pada titik keterhinggaannya.

‘Kesatuan ruang dan waktu’ ini mengantarkan kita pada Heidegger, si filosof Jerman itu. Pokok pemikirannya berkisar mengenai “ada” (being). Berkaitan dengan “ada”, Heidegger bilang “ada” tak bisa lepas dari waktu (sein und zeit).Manusia – atau dasein dalam istilahnya – adalah kesatuan antata masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Bagi Heidegger, waktu adalah rentangan di mana semua potensi kemungkinan bermunculan. Dalam setiap kemungkinan inilah akan muncul, pertemuan-pertemuan. Artinya, pertemuan ini tidak dapat dimutlakkan menjadi satu entitas absolut dalam sebuah rentangan waktu. Ia hanya menjadi kemungkinan atau potensi. Dan nantinya, kemungkinan atau potensi ini tidak akan pernah berhenti selama manusia hidup, ia berhenti saat manusia mati. Dalam kematian itulah manusia – dengan alam yang membersamainya – akan mencapai keterhinggaannya. Sejalan dengan pemikiran Einstein.

Jadi, saya berkesimpulan bahwa jodoh atau pertemuan adalah segala hal yang sedang berlangsung di alam semesta ini. Dan manusia sebagai makhluk yang berkesadaran-akan-dirinya harus melihat konsep jodoh dalam bingkai yang lebih luas, tak hanya urusan pernikahan: ekonomi, sosial, politik, budaya, kehidupan, kematian, dan lain-lain.

Lantas, bisakah pertemuan-pertemuan ini diabadikan? Atau ia hanya kesementaraan yang permanen?

Marcel Proust, penulis Prancis itu, mengangkat konsep waktu yang dapat abadi melalui seni. Dalam seni – umpamanya lukisan – warna, tekstur, atau bentuk yang dibuat pelukisnya berabad silam masih dapat kita rasakan secara intens. Karya-karya Affandi, Basuki Abdullah, van Gogh, Picasso, atau Leonardo da Vinci, misalnya, masih dapat kita maknai hari ini meski mungkin akan sedikit berbeda dari tujuan awal yang pelukis buat. Ya, begitulah seni. Batas-batas masa lalu, masa ini, dan masa depan seakan runtuh dalam sebuah karya. Dari sini seniman berhasil mencipta setiap jodoh atau pertemuan atau momen dalam waktu yang transenden.

Kita bisa saja menganggap dia jodoh kita, atau pekerjaan ini jodoh kita, atau kota ini jodoh kita, tapi tak ada pertemuan yang berlangsung selamanya; tak ada jodoh yang abadi. Entah nanti kita mati atau ia yang mati. Pada akhirnya keduanya akan sama-sama mati. Dan kita bisa saja mengabadikan jodoh atau pertemuan itu melalui seni, tapi sayang itu hanya citra. Hanya memorilah yang senantiasa hidup, ia sendiri tak lagi ada di pelupuk mata. Kita hanya bisa menganggap abadi, padahal ia pastilah selalu bersifat sementara. Ironi.

 

–from the whiteboard

Iklan

Menikah: Memerdekakan atau Memenjarakan Perempuan?

downloadfile“Sudah saatnya kita serius,” bola matanya menatap saya lurus.
Saya memperbaiki posisi duduk. Lidah mendadak kelu. Hembusan pendingin udara terasa lebih menusuk.
“Masa kita mau gini-gini aja?” tanyanya lagi.
Memang kenapa? tanya saya dalam hati. Saya menikmati momen-momen bersamanya. Saling berkirim kabar di sepanjang hari, mendengarkan suara masing-masing di penghujung malam, nonton bioskop sambil menggenggam tangan, tertawa atas lelucon masing-masing yang kadang tak lucu, dan masih banyak hal lain yang sepertinya tak perlu direpotkan sebuah ikatan bernama pernikahan.
“Kamu juga sudah umur berapa sekarang?” dia melemparkan pertanyaan yang tak perlu dijawab. Ini dia. Senapan paling mujarab bagi perempuan. Umur biologis. Tanggal kadaluarsa yang membayangi perempuan saat dia belum juga menikah dan melahirkan anak.
Malam itu saya setuju untuk sebuah hubungan yang lebih serius atau lebih tepatnya ke arah pernikahan. Momen mengikat diri atas nama agama dan hukum yang terus terang bukan lagi tujuan hidup saya. Tapi demi perasaan kuat saya terhadap lelaki ini, kami sepakat untuk sesuatu yang ‘lebih serius.’

***
Pernikahan pada konteks heteroseksual adalah sesuatu yang ngeri-ngeri sedap untuk saya.  Saya pernah patah hati teramat dalam karena lelaki yang tadinya mau menikahi saya mendadak mundur. Alasannya dia merasa kalah saing dengan cita-cita saya dan baginya saya susah diatur. Ditinggalkan pacar serius di saat banyak teman dan sahabat melangsungkan pernikahan merupakan neraka dunia. Rasa tidak berharga, kesepian, takut sendirian di masa tua, sel telur yang menggelegak tiap menjenguk teman yang baru melahirkan, pertanyaan-pertanyaan, ‘Kapan nyusul?, Pacar siapa sekarang?’ jadi hantu yang senantiasa menempel di kepala.

Di sisi lain, memasuki gerbang pernikahan terasa menakutkan karena yang terngiang dikepala ialah kata bercerai. Apalagi kebanyakan kasus perceraian yang saya ketahui kebanyakan dialami dari sisi perempuan. Mereka bercerita bahwa pasangan yang di masa pacaran cenderung baik hati, saat menikah bisa berubah jadi mendominasi, menguasai, bahkan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Inilah yang diamini oleh kalangan feminis. Pernikahan kerap dipandang sebagai institusi yang melanggengkan patriarki. Clare Chambers, novelis feminis Inggris, berkata, “Simbol gaun warna putih dalam pernikahan merefleksikan kesucian pengantin perempuan. Pendeta (yang selalu lelaki) akan berkata kepada pengantin pria, ‘Sekarang kamu boleh mencium pengantin perempuan.’ Bukan si pengantin perempuan yang mengizinkan dirinya dicium. Setelah menikah, si istri lalu mengganti nama keluarganya menjadi nama keluarga sang suami.” Di agama Islam pun, wali pengantin perempuan harus seorang lelaki. Bahkan perempuan sah-sah saja tidak ada saat ijab kabul. Dia akan tetap bisa dinikahkan dengan lelaki lain selama disetujui oleh walinya. Ini menyimbolkan bahwa perempuan dianggap tidak punya daya kuasa di hari pernikahannya.

Setelah selesai pesta pernikahan, dominasi suami terhadap istri terus berlanjut. Filsuf Bertrand Russel dalam Marriage and Morals (1929) menulis, “Jumlah hubungan seks tak diinginkan oleh perempuan yang terjadi dalam pernikahan bisa jadi lebih besar daripada pelacuran.” Kalimat ini tidak bisa dianggap sepele. Karena nyatanya kasus pemerkosaan dalam pernikahan kerap terjadi dan orang sering memalingkan mata terhadap fakta ini. Indonesia bahkan termasuk salah satu dari 47 negara di dunia yang tidak punya kekuatan hukum membela perempuan yang diperkosa suaminya. Julie Bindel, kolomnis The Guardian, berargumen pernikahan di masa sekarang tetap jadi cara lelaki memelihara kekuasaannya terhadap pasangannya. Sebagai pihak yang ditakdirkan melahirkan anak, perempuan seolah dibebani ‘tambahan takdir’ untuk mengasuh anaknya lebih intensif dibandingkan pasangannya. Urusan dapur dan rumah tangga menjadi beban tambahan yang juga dilekatkan pada perempuan. Tugas reproduksi sosial yang pada dasarnya dilakukan untuk melancarkan pekerjaan suami, sedihnya sering dianggap remeh karena tidak ada penghargaan materi. Beban ganda seringkali berlanjut ketika si perempuan turut bekerja membantu ekonomi keluarga. Penelitian yang dilakukan Working Mother Institute terhadap 1000 orangtua bekerja di tahun 2015 membuktikan ibu dua kali lebih banyak melakukan pekerjaan rumah tangga dibandingkan si ayah. Survey ini bahkan juga menunjukkan ibu yang menjadi bread winner, atau pihak dengan penghasilan terbesar di keluarga, masih menjalankan tugas domestik terbanyak. “Perempuan dengan penghasilan lebih banyak dari pasangannya tidak berarti tugas rumah tangganya menjadi lebih ringan,” demikian kesimpulan survey tersebut. Melihat fakta-fakta ini, tidak heran bila menurut riset yang dilakukan University of Padova tahun 2016, kesehatan mental istri cenderung menjadi lebih baik ketika suaminya meninggal. Berbanding terbalik dengan suami yang umumnya lebih stres saat istrinya meninggal.

**
Tapi masa, sih, perempuan semenderita itu saat menikah? Saya melihat sahabat-sahabat di sekitar. Mereka yang saya tahu benar-benar hidup selaras dalam pernikahan. Ada, kok, perempuan yang nampak lebih lepas dan bahagia saat menikah. Pernyataan ini diperkuat saat sesi ketiga Kursus Menulis Sebagaimana Perempuan Menulis yang diadakan oleh Agenda18. Ada beberapa teman yang justru merasa semakin bebas saat menikah. Nurul, ibu dengan empat anak, justru didorong oleh suaminya untuk terus meraih impiannya. Saat saya bertemu Okky Madasari, penulis favorit saya, di acara Asean Literary Festival, ia berujar, “Ini jawabanku pasti diejek sama wartawan feminis nih. Tapi aku merasa menikah membebaskanku. Aku merasa mendapatkan sayap saat menikah. Suamiku suportif terhadap profesiku sebagai penulis. Dia membebaskanku untuk menekuni dunia menulis.”

Tidak bisa dipungkiri, dukungan suami terhadap istri adalah salah satu kunci stabilitas pernikahan. Kesimpulan ini yang didapat sebuah riset yang dilakukan Alyson Byrne dan Julian Baring yang dimuat di Harvard Business Review terhadap perempuan yang memiliki status pendidikan dan pekerjaan lebih tinggi dari suaminya. Bila suami mau membantu dalam hal pekerjaan rumah tangga, mengurus anak atau lansia, maka istri dengan pendapatan lebih tinggi akan tetap merasa pernikahannya aman dan stabil. Begitu pula bila dukungan suami hanya berbentuk emosional, ini akan membuat istri lebih fokus pada pekerjaannya dan menandakan adanya rasa hormat.

Pembagian tugas rumah tangga yang adil ternyata juga berpengaruh pada kehidupan seks suami istri. Sebuah riset yang dilakukan lebih dari lima tahun oleh konsultan pernikahan Matt Johnson pada tahun 2015 yang dimuat Journal of Family Psychology, membuktikan bila lelaki merasa pembagian tugas rumah tangga dilakukan secara merata, maka hubungan seks terasa lebih memuaskan buat kedua pasangan. Mau ena? Ayo cuci piring dan jaga anak dulu wahai para suami. Lebih jauh lagi menurut studi yang dimuat di Psychological Science (2014), suami yang bersedia berbagi melakukan pekerjaan rumah tangga dengan istrinya, akan cenderung membesarkan anak perempuan yang lebih ambisius mengejar impian.

Pernikahan patriarki adalah ikatan komitmen ketika suami akan mendominasi dan cenderung tidak mau dipengaruhi istrinya. Pernikahan semacam ini yang menurut hemat saya memerangkap perempuan dan pada akhirnya menghancurkan hubungan. Ahli pernikahan terkemuka, Dr. John Gottman, melakukan riset kepada 130 pengantin baru selama enam tahun untuk mencari tahu rahasia sukses sebuah hubungan perkawinan. Ada satu rahasia utama yang terbongkar dari penelitian ini. “Kami menemukan pengantin baru lelaki yang mau menerima pengaruh istrinya, berada dalam pernikahan yang lebih bahagia dan stabil,” ujar Gottman. Sementara suami yang gagal mendengar protes istrinya, merespon dengan mendiamkan atau berbalik agresif, cenderung berujung pada pernikahan yang suram. Tapi jangan kira perempuan bisa seenaknya juga dalam pernikahan. Tentunya pernikahan butuh dua pihak untuk berusaha. Istri juga harus memperlakukan suami dengan hormat. Dan ini menurut riset Dr. Gottman, sudah dilakukan mayoritas istri, bahkan ketika berada di pernikahan yang tidak membahagiakan. Pada umumnya istri akan memperhatikan opini dan perasaan suaminya ketika membuat keputusan. Namun sayangnya menurut data, kebanyakan suami tidak melakukan ini. Data Dr. Gottman juga menunjukkan ada 81 persen kemungkinan pernikahan akan hancur bila lelaki tidak bersedia berbagi kekuasaan.

****
Empat bulan sudah berlalu sejak pembicaraan hubungan lebih serius ia lontarkan pada saya. Sejak itu saya sudah beberapa kali makan malam bersama keluarganya. Terutama dengan ibunya yang sangat ia cintai. Sangat lucu ketika hubungan ditetapkan untuk menjadi lebih serius, beban satu ton seakan ikut bertambah. Kami menjadi lebih kritis satu sama lain. Friksi perbedaan nilai semakin tajam. Kompromi seringkali berujung semu. Hingga akhirnya sebuah letusan terjadi. Saat ia berkata cita-cita personal saya membuatnya merasa kecil. Bahwa istri yang diharapkannya adalah yang tidak menuntutnya macam-macam.
Di titik itu saya mafhum, pernikahan yang memerdekakan saya, tidak ada di hadapan mata.

–trinzi

Kesarinahan sebagai Identitas Patriarki

downloadfileSatu tahun sudah saya menjejaki dunia sebagai kader GmnI Tegal. Sebuah organisasi kepemudaan di mana setiap kader khususnya perempuan harus menempati status sosial yang dikekalkan di masyarakat. Kebebasan seorang perempuan harus terbatasi oleh kebijakan yang dibuat untuk disengaja membatasi peran & pemikiran perempuan, perempuan tidak diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki yang mempunyai relasi kekuasaan yang masih dianggap absolut. Perempuan penuh mitos yang membelenggu, dimanakah harus saya taruh kemerdekaan berpikir dan berkreasi? Peran gender dalam organisasi kepemudaan ternyata juga dapat menyebabkan subordinasi terhadap perempuan dalam aktivitas organisasi. Anggapan bahwa perempuan itu irasional atau emosional menjadikan perempuan tidak bisa tampil sebagai pejuang-pemikir pemikir-pejuang dan ini berakibat pada munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang kurang penting. Subordinasi dapat terjadi dalam segala bentuk yang berbeda dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. Di GmnI Tegal misalnya, masih ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu diikutkan agenda-agenda yang bertujuan untuk merumuskan keputusan dan atau kebijakan, perempuan hanya diiikut sertakan dalam agenda yang sifatnya bersuka ria. Praktik seperti itu sesungguhnya berangkat dari pemahaman gender yang minim.

Fenomena yang saya temui saat perempuan menjajaki ruang-ruang pemikiran hanya sedikit saja orang yang mengenalnya sebagai “perempuan merdeka”, sesuai yang termaktub didalam salam perjuangannya. Latar belakang eksistensi karena teman dekat (lawan jenis) nya yang memiliki peran kuat di organisasi memaksanya dikenal dengan nama teman dekat (lawan jenis) nya, bukan namanya sendiri.

***

Terkait Bidang Kesarinahan, garis besar fungsi Kesarinahan yang saya pahami ialah wadah pengakomodiran perempuan secara pemikiran dalam GmnI yang tidak terkait dengan kekuatan politik; sebagai wadah untuk melakukan pembinaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok organisasi. Sepanjang perjalanan saya bersama GmnI Tegal hanya memiliki kegiatan yang monoton dan non inovatif. Tidak ada isu keperempuanan yang dibahas di dalamnya, tidak ada bentuk pembaharuan pemikiran yang membebaskan perempuan dari jerat ketertindasan di internal tubuh organisasinya, begitu kontradiktif dari pemahaman saya dalam memahami konteks marhaenisme secara luas.

Peran perempuan sebagai alat pelengkap dan magnet kaderisasi membawa perempuan pada arus identitas patriarki. Secakap apapun kader perempuan tidak akan menjadikan pemikirannya dipertimbangkan dalam perumusan sebuah kebijakan atau keputusan. Sebaliknya perempuan yang secara kemampuan belum memiliki keradikalan pemikiran dalam kontribusi organisasi yang memiliki relasi teman dekat (lawan jenis) dari bagian pimpinan organisasi, mendapatkan hak privilage. Dengan mendapatkan “fasilitas sosial” yang lebih baik. Jadi, jangan heran jika kegiatan Kesarinahan yang sering terlihat hanya bersifat seremonial seperti membagi bunga, tampil sebagai penyedot perhatian sebagai orator ulung, magnet kaderisasi saat masa orientasi dan pengisi kesekretariatan serta bidang konsumsi dalam struktural kepanitiaan. Penyadaran secara pemikiran akan pentingnya pemaksimalan kegiatan Kesarinahan selain kegiatan di atas seharusnya menjadi perhatian teman-teman GmnI pada umumnya.

Fenomena yang masih kerap terjadi hari ini adalah bagaimana peran dan fungsi seorang perempuan (sarinah) dianggap lebih rendah dari peran laki-laki (bung) yang mampu merasionalisasikan pendapat-pendapatnya dalam perumusan kebijakan organisasi atau penentuan sikap secara kelembagaan dianggap sebagai parameter dalam pemenuhan kebutuhan organisasi. Anggapan atas keistimewaan laki-laki sebagai pemilik kuasa tertinggi sebagai seorang pemimpin dalam organisasi yang kemudian menimbulkan penyingkiran kerja perempuan sebagai sesama kader. Bahwa kerja perempuan dalam relasi organisasi dianggap sebagai peran kedua karena fungsi domestik yang dijalankannya tidak mendapatkan prestige social seperti halnya laki-laki. Aktivitas perempuan dalam sektor domestik pada organisasi seperti GmnI seharusnya mulai dibenahi segera mungkin agar kontribusi pemikiran seorang perempuan dapat terwadahi dan terakomodir dengan baik.

***

Saya selalu mendengar di setiap pertemuan atau pergaulan di lingkup organisasi ini yang mengungkapkan bahwa laki-laki pada umumnya lebih mengutamakan logika dari pada perasaan, sedangkan perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika. Sehingga tidak jarang, perempuan dianggap tidak dapat berkontribusi secara pemikiran dalam perumusan kebijakannya. Tetapi pernahkah pembaca mempertanyakan dalil atau dasar ungkapan tersebut? Dapatkah dibuktikan secara ilmiah? Tidakkah ungkapan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah itu mengakibatkan diskriminasi dan ketidakadilan? Saya rasa ungkapan semacam itu sudah seharusnya dimasukkan dalam keranjang sampah, bukan hanya karena tidak ada pembuktian ilmiah, tetapi juga akan menimbulkan bentuk-bentuk ketidakadilan dan pembatasan hak-hak tertentu pada salah satu pihak, yaitu perempuan.

Kondisi perempuan dalam organisasi yang terkungkung dalam beban identitas patriarki membuat saya semakin gerah. Saya amat meyakini bahwa perempuan-perempuan yang bergerak pada sektor domestik merupakan nuklir dahsyat bagi negeri ini. Melihat posisi perempuan pada organisasi GmnI yang saya temui selama ini membentuk anggapan bahwa perempuan dapat saling menjatuhkan. Sehebat apapun seorang perempuan, jika mereka merupakan kawan dekat seorang Bung yang tidak memiliki kehebatan sosial maka tidak akan hebat pula kariernya di ranah sosial atau organisasi. Ini juga akan memengaruhi konsepsi akan perannya di masyarakat, pemikirannya selalu berasal dari keputusan teman dekat (lawan jenis) nya.

Peran perempuan di sebuah organisasi seperti GmnI belum dapat dikatakan sebagai tindakan yang memberdayakan secara maksimal. Penguasaan dan dominasi masih sangat dipengaruhi oleh peran domestiknya. Maka diperlukan sebuah penyadaran dan kesadaran perempuan sebagai individu untuk berusaha membebaskan dirinya secara pemikiran dari identitas patriarki yang mencengkram. Sebagaimana dikatakan Soekarno, “Dan kamu, wanita Indonesia, achirnja nasibmu adalah di tangan kamu sendiri. Saja memberi peringatan kepada kaum laki-laki untuk memberi keyakinan kepada mereka tentang hargamu dalam perdjoeangan, tetapi kamu sendiri harus mendjadi sadar, kamu sendiri harus terdjun mutlak dalam perdjoeangan”.

Merdeka!!!

Aistetia Patriandita,
Sekretaris DPK ISIP DPC GmnI Tegal

Perempuan Dalam Pasungan

Untuk perempuan…
ah, banyak sekali ekspektasi masyarakat kita terhadap kalian
kalau perempuan belum menikah di usia 25, dipandang negatif
perempuan harus berpenampilan menarik, namun jika perempuan memakai kosmetik, dikatakan palsu hanya mementingkan penampilan luar
Terkadang bahkan jika di mata masyarakat “kurang cantik”, perempuan dianggap tak seberapa bernilai
Untuk perempuan…
Mengapa? mengapa jika kaum lawan jenismu melepaskan keperjakaannya sebelum menikah, itu bukan sebuah persoalan besar, namun jika perempuan melepaskan keperawanan sebelum menikah, dicap perempuan nakal?
“Perempuan harus menjaga diri. Perempuan adalah perhiasan yang harus disimpan dalam lemari kaca”
Ah, itu semua omong kosong, perempuan bukanlah objek!
Tubuhmu adalah milikmu, adalah hakmu sepenuhnya apa yang kau lakukan dengan tubuhmu.
ya, jika kau seorang perempuan dan kau membaca ini,
sadarkah kau, kau cantik sekali hari ini,
dan kemarin-kemarin, dan sampai kapanpun
bukan karena kulitmu putih mulus, rambutmu lurus, dan tubuhmu ramping semampai
namun karena kau perempuan.
Kau bukan warna kulitmu,
kau bukan ukuran pakaianmu
kau bukan jenis rambutmu
kau bukan perhiasan yang menempel di tubuhmu
Pikiranmu adalah kau
kepribadianmu adalah kau
kecerdasanmu adalah kau
kau adalah pesonamu
Menua lah dengan ia yang tak akan berkomentar tentang ukuran bajumu yang bertambah atau berkurang
ia yang juga tak peduli akan berapa jumlah kerutan di wajahmu
ia yang akan bertanya tentang buku yang kau baca atau tentang film yang kau tonton
ia yang akan bertanya pendapatmu tentang berita di TV hari ini
Ah, menyenangkan sekali bukan jika ada yang memandangmu tidak dari atribut luarmu
ingatlah, menjadi perempuan merupakan kesempatan terindah. Salah satu sumber seni kehidupan, sosok yang mampu menggeliatkan hidup menjadi lebih kuat dan bermartabat.
Kata siapa perempuan seutuhnya adalah mereka yang punya tubuh seperti ini, seperti itu, harus memiliki suami dan anak dan sebagainya?
Kau bisa berambut pendek atau panjang, atau bahkan tak memiliki rambut sekalipun,
dan tetap menjadi perempuan seutuhnya.
Kau bisa kurus atau gemuk, dan kau adalah perempuan seutuhnya.
Kau boleh memiliki anak, ataupun tidak, ataupun memang tidak bisa mengandung seorang anak, dan kau tetap perempuan seutuhnya.
Kau boleh memiliki suami atau tidak memiliki pasangan hidup dan kau tetap perempuan seutuhnya.
Perempuan…

Jangan pernah merasa lelah untuk menjadi bahagia dan merdeka!

Quo Vadis Pergerakan Mahasiswi Indonesia?

Sepanjang saya menjadi mahasiswi, dunia aktivisme menjadi suatu hal yang sangat seksi. Menjalankan peran sebagai perempuan sekaligus mahasiswi didalam satu tubuh kerap kali menemui labirin yang melelahkan namun tidak pernah membuat kapok untuk mencari titik temu keduanya.

Judul diatas bukan sesuatu yang dimaksudkan pertanyaan reaktif.  Judul tersebut lebih kepada pertanyaan reflektif, yang tidak memerlukan jawaban dengan untaian kata-kata yang progresif, dengan penyampaian penuh emosional. Berpuluh tahun lamanya spirit Hari Perempuan Internasional digaungkan, Hari Perempuan Pedesaan Internasional diperingati, Hari Kartini dimeriahkan, tapi kemana arah pergerakan yang sudah dilakukan oleh mahasiswi Indonesia?

Ketika membicarakan tentang peranan perempuan, tentu sangat menarik untuk menyoroti pergerakan keperempuanan organisasi mahasiswa. KOHATI Bidang Keperempuanan milik HMI, KOPRI milik PMII, Sarinah milik GMNI, Immawati milik IMM, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyaknya organisasi mahasiswa yang memberikan ruang untuk perempuan tetapi yang saya rasakan masih sedikit sekali dari mereka yang mampu menjadi intellectual organic yang menurut Gramschi adalah mereka yang tidak hanya pandai dalam keilmuan tetapi mereka yang mampu menyatu dengan masyarakat.

Fakta di lapangan pun tidak bisa dinafikan, hari ini belum ada gaung yang terdengar dari gerakan-gerakan mahasiswi yang secara aktif dan masif berkontribusi pada pembangunan masyarakat. Artinya, progresivitas gerakan ini masih belum bisa diperhitungkan, meski tentu saja bukan secara general, ini kasuistik pada beberapa ranah gerakan mahasiswa di kampus-kampus tertentu.

Hidup segan mati pun tak mau mungkin pepatah itu yang mampu mengungkapkan keadaan gerakan mahasiswi yang selama ini telah dinanti-nanti benar kehadiran dan sumbangsihnya bagi masyarakat. Mereka telah banyak disibukkan dengan urusan internal organisasi yang akhirnya berdampak pula  pada hilangnya eksistensi, pengaruh, dan kebermanfaatannya.

Organisasi keperempuanan tersebut di atas juga belum bisa menentukan tujuan serta arah gerakannya yang bisa saja membuat organisasi mengalami disorientrasi dan impotensi. Hal ini perlu menjadi koreksi kita bersama khususnya kaum perempuan yang aktif dalam wadah gerakan membangun sumber daya manusia untuk menyatukan visi dan misi, terlebih untuk mengoptimalkan agenda-agenda yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Contohnya saja dalam menyikapi persoalan ibu-ibu petani Kendeng yang dirampas hak atas tempat tinggal dan hak sosial-lingkungannya, suara para mahasiswi belum bergema di seantero kampus saya. Meskipun perjuangan itu bebas gender, namun kalau mau direflektifkan, suara mahasiswi ini belum menggema keras.

Mahasiswa sebagai agent of change, memainkan peran pentingnya dalam membangun sumber daya manusia di wilayahnya, tak terkecuali mahasiswi yang tergabung dalam wadah gerakan keperempuanan. Sekali lagi, masyarakat sangat mengharapkan fungsi dan peranan gerakan keperempuan bisa diimplementasikan secara maksimal dan dapat dirasakan lansung oleh masyarakat.

Ini harusnya menjadi perhatian khusus bagi gerakan-gerakan keperempuanan di Indonesia. Tak perlu mengeksklusifkan diri, memikirkan bagaimana caranya mendapatkan jejaring dari kalangan eksekutif ataupun kalangan legislatif. Banyak persoalan dimasyarakat yang perlu kita pikirkan dan kita selesaikan bersama-sama. Mulai dari masalah pendidikan, ekonomi masyarakat, kesehatan masyarakat dan masih banyak lagi.

Ketika gerakan keperempuanan mulai menyentuh beberapa aspek penting di masyarakat dan mampu memberdayakan kaumnya, maka sedikit demi sedikit masalah yang banyak bermunculan mulai bisa terurai dan teratasi. Bisa dibayangkan ketika organisasi-organisasi keperempuan secara aktif dan progresif melakukan peranannya, maka akan sangat mungkin akan tercipta sebuah tatanan masyarakat adil makmur yang didambakan oleh masyarakat.

Maka, sudah saatnya bagi kita kaum perempuan yang terdidik yang memiliki visi dan misi yang besar untuk bersama bahu membahu, menyatukan pemikiran, dan harus berani bertindak. Kaum perempuan adalah tiang negara. Mari kokohkan dan perkuat negara ini dengan kehadiran kita. Sudah bukan zamannya lagi untuk berjuang sendiri-sendiri. Meskipun tulisan ini adalah bentuk reflektif, namun tagline jangan diam, mari bicara, lawan bersama harus menjadi kalimat yang tertanam dalam spirit perjuangan kaum perempuan.

 

 

 

Referensi dari berbagai sumber.

Perempuan Perokok

Dalam novel Gadis Kretek, kisah Roro Mendut, rokok dijadikan sebagai simbol kebebasan dan tanda pemberontakan; atas sistem patriaki dan misoginis. Betapa dangkal isi kepala seseorang yang melabeli perempuan perokok itu “perempuan nakal” bahkan “murahan”, tidak kah bisa mereka lihat filosofi yang positif? Bahwa perempuan yang merokok merupakan salah satu bentuk pemberontakan atas ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan.

Rokok bukanlah parameter baik buruknya seseorang. Ya, rokok memang merugikan bagi kesehatan laki-laki dan perempuan. Rokok tidak baik  untuk siapapun; apapun jenis kelaminnya.

Saya sudah jenuh dengan mereka yang menilai karakter seorang perempuan dari rokok yang menyala di sela jari jemarinya. Mari kita sudahi “kesalahpahaman” ini. Kesalahpahaman yang mengurung kita dalam stereotip budaya yang negatif. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara atau usaha berhenti merokok untuk kesehatan diri yang lebih baik.

We All Start As Stranger

Nemu jodoh…
Wait! Jodoh?
Disaat saya boro-boro memikirkan jodoh, justru saat itu Tuhan beri jalan untuk mengenal seseorang dengan lebih dalam.

Oh, bukan..
Mungkin begini,
Tuhan membukakan pintu hati saya untuk seseorang.
Tuhan benar-benar Maha Mengagetkan. Maha tidak terduga,


dalam perjalanan pulang dari perantauan dengan rambut lepek muka berminyak lipstick memudar snikers belepotan setelan baju ala kadarnya didalam rangkaian gerbong kereta, seseorang itu duduk tepat satu bangku dengan saya dengan tempat tujuan yang sama.