Luka dalam Sanjungan

Orang mungkin mengira akan membuat saya senang jika berulang kali mengatakan bahwa tulisan saya bagus.

Apa gunanya bagi saya?

Hati saya, jiwa saya harus disungkur, digali. Dan kalau dari situ darah bersembirat; seperti pancuran air, barulah tulisan itu mempunyai nilai.

Menyedihkan, tetapi nyata!

Iklan

Kecuali Memiliki

IMG_20181013_124844_727Aku adalah perempuan dengan mimpi-mimpi besar. Jika itu terlalu rumit kau pahami, maka pergilah.

Aku tak pernah punya alasan untuk menahan setiap siapa yang tak mau berkompromi dengan isi kepalaku.

Banyak puncak yang mesti digapai

Banyak langkah yang mesti diperjuangkan

Jika kau mencari perempuan sederhana yang menamai dirinya rumah, berkelanalah.

Akan banyak kau temukan perempuan yang memasakan air untuk menyeduh kopi pahitmu di pagi hari, tapi itu bukan aku.

Kau tahu aku tak dapat menjadi rumah yang diam menunggu seseorang pulang. Jika terlalu sulit kau terima, maka pergilah.

Di perjalanan akan banyak perempuan yang kau temukan untuk memasung langkahnya atas namamu, memutuskan cita-citanya demi anak-anakmu, tapi itu bukan aku.

Jadi pergilah temukan satu dari yang banyak itu.

Aku bukan bagian dari kebanyakan

Aku bukan wilayah yang dapat dibatasi patok

Aku bukan yang kau tandai sebagai hak milik seperti anjing yang mengencingi teritorialnya

Aku adalah milik diriku sendiri..

Cintai aku dengan segala cara. Kecuali memiliki

Karena antara aku dan siapa saja yang menjadi lelakiku, tak ada yang boleh saling memiliki.

Cinta Platonis

Amour Plantonique

Aku tak pernah benar-benar percaya cinta platonis memang ada. Bahkan, ketika aku sendiri bimbang dan meragu apakah perasaan yang menelanjangiku tiap malam—setiap hendak berangkat tidur—ini bisa dikategorikan ke dalam jenis yang Plato sebutkan itu. Aku tetap tak percaya. Aku lebih memilih untuk bungkam dan menolak untuk patuh. Telah lama kuhapus definisi-definisi filsafat tai kucing yang mencoba mengatur apa yang harus dan tidak boleh dilakukan dari kamus hidupku. Mungkin, tepatnya, sejak aku mulai dekat dengan sosokmu.

Aku lupa mengapa aku pernah begitu menyukai senja yang kaotik, menganggap duduk berdua di ujung dermaga menyambut temaram jingga di ufuk barat sebagai hal paling romantis yang dapat kukenang hingga rambutku memutih dan syaraf-syaraf otak perlahan berhenti melakukan pekerjaannya. Aku lupa. Nyatanya, perkenalan dengan lelaki sepertimu mengajarkan hal yang sama sekali lain: bahwa hidup dapat dimaknai dengan sebebas-bebasnya, tanpa harus percaya pada kutipan-kutipan dan kearifan bijak bestari yang bahkan telah diucapkan sebelum kakek dan nenek kita mengenal huruf dan kata.

Berkat kamu, aku mengenal cara hidup yang jauh lebih intim dari itu. Setelah ucapanmu, aku—daripada hanya sekedar menanti senja rubuh—lebih memilih untuk terjaga sepanjang malam denganmu, berdua saja, hingga dini hari tiba . Dalam kesadaran yang mulai lindap, kita sering bercakap-cakap. Atau hanya saling diam. Atau tertidur tanpa kita ingat siapa yang mendahului.

“Jika kita bisa menaiki perahu hingga ke tengah laut, kenapa kita hanya berdiam saja di dermaga?” ujarmu di satu kesempatan.
Aku tersenyum. Analogimu lucu.
“Ayolah. Kau takkan cukup puas jika hanya memperoleh satu kalau kau bisa mendapatkan dua, tiga, atau lebih. Ambil sedikit resiko. Horatius tak pernah takut kalah bertaruh dan mati muda. Ia justru menyebut mereka yang memiliki usia panjang adalah orang-orang sial.”
Aku pun tertawa terbahak begitu kencangnya demi mendengar ucapanmu tanpa tahu di kemudian hari pun aku menangis tak tertanggungkan karena hal yang sama. Rupanya, aku tak bisa memperkirakan akibat yang dihasilkan oleh keberanian yang bodoh, pertaruhan yang tolol.
***
Don’t go far off, not even for a day, because —
because — I don’t know how to say it: a day is long
and I will be waiting for you, as in an empty station
when the trains are parked off somewhere else, asleep.
Suatu kali, entah kenapa sepotong sajak berbicara lebih banyak dari motivator di televisi. Aku merasa ditonjok begitu keras di bagian dagu. Rahangku sakit dan mataku berkunang-kunang. Aku tak bisa berkata-kata saat membaca sajak milik Neruda. Mungkin ini yang dinamakan kekalahan.
Aku tahu tidak sepantasnya aku bahagia dan menanam asa. Seharusnya aku ingat Shakespeare pernah berkata bahwa harapan adalah akar dari semua sakit hati. Namun, sebenarnya aku tak sungguh-sungguh lupa. Aku hanya tak ingin mengingat satu fakta yang pahitnya melebihi kopi dingin yang biasa kita sesap pada dini hari. Fakta bahwa kita hanyalah sebuah konsep semu. Konsep yang takkan bisa dibangun ketika kau dan dia masih menjalin cinta, bersama. Aku hanya mencoba lari dari kenyataan bahwa kita bukanlah siapa-siapa selepas subuh tiba.
Aku sadar bahwa aku hanya perempuan yang menanggung luka. Sendiri. Aku—meski tak bisa dibandingkan dengan Yesus yang rela disalib demi kemuliaan umatnya—tahu bahwa ketika kau tak mampu memanggul dunia yang hampir jatuh di atas kepalamu, akulah orang yang akan kautuju. Kenyataan ini membuatku belajar: selalu ada saat-saat di mana manusia dihadapkan untuk memilih antara idealisme yang mengganggu dengan realitas yang terkadang tak mau tahu. Dan mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengakui bahwa cinta yang platonis itu sungguh nyata.
“Adakah penengah antara harapan yang tak kunjung redup dengan cinta yang terlalu?” tanyaku.
“Apa kau sungguh-sungguh pernah jatuh cinta?” aku tak yakin.
“Tentu pernah. Bahkan saat ini aku sedang mencintaimu” jawabmu mantap.
Senyum genitmu pun hadir. Mata kecilmu memandangku lekat-lekat.
“Tenanglah, sayangku,” katamu lembut.
“Tak ada kecemasan yang perlu dipelihara hingga menahun. Ia, meskipun berkali-kali kau coba bunuh, akan selalu tumbuh. Sejarah kecemasan telah ada setua umur peradaban manusia itu sendiri. Jika tidak, mana mungkin Adam rela menghabiskan sisa hidupnya di bumi untuk mencari tulang rusuknya yang terpisah?”
“Kau tak pernah menjadi aku,” aku mulai merajuk. Ada sedikit nada pesimis pada kalimat terakhirku.
“Apakah untuk tahu apa yang kau rasa, aku harus menyaru menjadi dirimu? Aku bahkan tak tahu harus berbuat apa”
Kudengar intonasi dalam bicaramu mulai berubah naik. Kemudian, seperti biasa, kau mulai mendongengkan kisah yang berkali-kali aku dengar darimu.
“Dyah Banuwati….” katamu memulai kisah basi yang membuatku muntab.
“Ia, putri Prabu Salya yang sangat terkenal karena kecantikannya itu, adalah garwa Prabu Duryudana. Siapapun tahu siapa Duryudana: Raja Kuru yang mempunyai kuasa tiada batas. Pemimpin Hastinapura yang memiliki tahta atas gading, emas, berlian, juga hasil alam yang tak terhingga. Namun bukan berarti ia juga berkuasa atas hati manusia. Mungkin ia mampu memiliki tubuh molek Banuwati, tetapi tidak dengan hatinya.”
Sebelum skenario usang kembali terulang, aku potong pembicaraanmu.
“Cukup. Aku sudah khatam dengan cerita itu. Aku tahu terusannya. Bahwa hanya Arjuna yang mampu mencuri jiwa kesepian Banuwati. Bahwa dalam malam-malam sunyi selepas perang yang melelahkan, Banuwati menyusup ke tenda milik Pandawa hanya untuk bercinta dengan Arjuna.
Aku paham. Justru kamu yang tak paham bahwa pewayangan hanyalah cerita fiksi.
Hentikanlah lelucon yang tak lucu ini. Sudah untung aku tak kerasukan Qabil yang tega membunuh Habil untuk memperoleh Iqlima,” cecarku mengutip kisah putra-putri adam.
Hawa semakin dingin. Toa-Toa masjid saling bersahutan mengumandangkan Adzan
Subuh. Sementara, kita tak pernah tau apa yang akan kita lakukan usai perbincangan ini.
“Dari puluhan sajak yang kubaca, tak pernah ada yang sanggup membayar sebuah kehilangan dengan harga yang pantas,” tuturku lirih, mencoba menurunkan tensi.
“Hmm….”
“Kau tentu tahu aku selalu bersedia mengalah. Selalu mengambil jarak dengan perasaan. Aku tak mau kecewa saat pagi yang basah oleh embun kau kembali pulang. Namun tetap saja ada yang lesap ketika aku bangun dan menemukan kau tak ada lagi di sisiku.”
“Aku tidak pernah ingin berjudi tentang kebahagiaan” tukas ku
Kita kembali diam. Membiarkan Adzan Subuh menelan keheningan yang menggigil. Mencoba untuk melepas ragu yang masih tersisa di sela-sela kerumitan ini.
“Boleh aku bilang satu kalimat penutup?” tanyamu ragu
“Apa?”, tanyaku kembali
“Sepertinya aku mencintaimu.'” tuturmu
 Aku tersenyum.
because in that moment you’ll have gone so far
I’ll wander mazily over all the earth, asking,
Will you come back? Will you leave me here, dying?
(Pablo Neruda – Don’t Go Far Off)

Kata Ganti Menunggu

Saya menemukan buku-buku lama yang pernah saya baca, tentang ‘jodoh yang tak kunjung tiba, dan perempuan mesti menunggu.’ Saya berpikir ulang tentang kata ‘menunggu’ dan mendapatkan sesuatu yang mengusik saya, bahwa kata ‘menunggu’ di situ kerap diidentikan sebagai subordinasi perempuan. Bahwa perempuan tidak punya hak untuk memilih siapa yang akan menjadi pasangannya. Sementara laki-laki punya hak istimewa untuk memilih dan memutuskan pilihannya atas perempuan.
•••
Ide lain dari kata ‘menunggu’ yang juga mengganggu saya adalah perempuan diam, berdandan, menjaga sikap dengan baik, menjaga keperawanan, hingga saat yang tepat ia akan bertemu dengan laki-laki yang (dirasa tepat) untuk menjadi pasangannya. Selain itu kata ‘menunggu’ juga kerap menggambarkan bahwa perempuan tidak boleh agresif, dalam pengertian, agresifitas hanya boleh dimiliki oleh laki-laki sebagai sebuah tindakan untuk memburu perempuan, sebab lagi-lagi perempuan dianggap sebagai makhluk yang pasif, tidak berdaya, dan tidak berhak untuk memilih.
•••
Saya kembali mundur pada nilai-nilai yang ada dan berkembang di sekitar saya. Tentang bagaimana masyarakat sangat memuji perempuan dengan keperawanan. Bahwa tugas untuk untuk menjaga keperawanan hingga ‘waktunya tiba’ adalah sebuah tugas mulia yang mesti diemban oleh seorang anak perempuan. Sementara kita tidak mengajarkan hal yang sama kepada anak laki-laki kita. Terdapat sebuah perbedaan besar antara cara membesarkan anak perempuan dan anak laki-laki. Bahwa anak perempuan tidak boleh terlalu agresif, mesti banyak menjaga sikap, jangan terlalu ekspresif untuk menyatakan perasaan, jangan terlalu ambisius, dan harus menjaga keperawanan. Sementara standar yang sama tidak dipelakukan kepada anak laki-laki.
•••
Lalu, untuk mengganti kata ‘menunggu’ tadi, saya menyukai kata ‘menemukan’ (to discover, to found, to have, to detect, to invent). Baik perempuan dan laki-laki punya peran yang sama, untuk ‘menemukan’ siapa dirinya, ‘menemukan’ seksualitasnya, ‘menemukan’ bagaimana sikapnya terhadap seksualitasnya, ‘menemukan’ ambisinya, ‘menemukan’ perasaan-perasaanya, ‘menemukan’ dan membuat pilihan secara sadar siapa yang menjadi pasangannya.

Menyerah Tanpa Merasa Kalah

 

Memang rasanya ini bukanlah diriku, aku yang selalu berusaha semangat karena ada cita-cita yang beraneka ragam, aku yang tidak pernah menyerah karena terlalu percaya ada kekuatan besar diluar diri ini yang akan memberi banyak ketabahan, aku yang begitu rapi menuliskan daftar-daftar panjang tentang impian. Apakah sekarang aku mencoba menipu diri sendiri karena terlalu lelah dengan harapan-harapan? Entahlah…

Tapi semakin hari, aku semakin menyadari bahwa keduniawian cuma tempat aku lari dari hatiku sendiri, banyak hal yang belum selesai berproses di jiwaku yang kadang masih terasa gamang dan kosong. Aku selalu mencari jalan ke luar, mencari kebahagiaan dengan mengatasnamakan eksistensiku di hadapan orang lain. Menyadari bahwa ada hal-hal yang lebih penting, yaitu kedamaian hati untuk menerima diri.

Semua pandangan baruku tak lepas dari orang-orang/ buku-buku/ komunitas yang sudah aku jadikan bagian dari hidupku. Aku masih belum selesai berdamai dengan masa laluku, aku masih belum meraih yang aku mau, aku masih belum menemukan “Tuhan” dijiwaku, aku masih perlu belajar lebih banyak lagi. Aku memilih menjadi seperti ini, tentu ada konsekuensinya dan aku merasa sangat siap menyambut semuanya.

Berkali-kali di sepanjang hidup pengalaman telah memberikan banyak hal-hal indah, hal-hal sulit yang akhirnya bisa diselesaikan, rasa sakit yang mengajarkanku untuk ikhlas menyerah, kebahagiaan karena kehadiran orang-orang hebat di sekitarku. Rasanya tak adil jika aku tak bersyukur atas semuanya. Aku berkali-kali berlari tanpa peduli lelahnya kaki, kini aku ingin berjalan lebih pelan memperhatikan sekitar, kembali mencintai diri sendiri, mengagumi sekeliling, merasakan sinar matahari dan tetesan hujan.

Pernah aku bilang, selesailah dengan dirimu sendiri sebelum kamu siap berproses bersama-sama seseorang, supaya kita tidak memiliki hutang yang tak akan pernah terbayar lunas.
Dan akhirnya, sekarang aku memutuskan sudah selesai dengan segala pencarian yang melelahkan, aku sudah siap untuk memulai perjalanan kembali ke ‘dalam’, kemana hati ialah milik-Nya, bukan lagi milik dunia. Aku pun siap bersama seseorang bertumbuh bersama, entah dia siapa. Tapi aku percaya dia ada dan kami hanya perlu untuk saling menyadari kehadiran.

Aku selesai dengan diriku, namun aku tak akan pernah selesai menempuh jalur spiritualitas yang mengarah kepada-Mu. Aku selesai dengan ambisiku, namun aku juga tak lelah berharap untuk menemukannya yang adalah dari-Mu.

Demikian hari-hariku ingin berisi rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pemberi Hidup.
Inilah aku, menyerah tanpa merasa kalah.

Jodoh dan Ironi

Belakangan, saya melihat makin banyak campaign atau dakwah bagi para perempuan dan laki-laki lajang untuk menikah muda. Ya walaupun sebenarnya sudah ada dari dulu, tapi keberadaan media sosial makin menggencarkan dakwah itu. Setelah membaca-baca, ada satu kata kunci yang pasti selalu hadir di sana, “jodoh.” Saya heran kenapa kata ini melulu dikaitkan dengan pernikahan atau hubungan heteroseksual. Suatu hari saya berbincang dengan seorang teman, ia bertanya, “Kayaknya aku sama dia [pacarnya] jodoh deh. Menurut kamu gimana?” Saya menjawab singkat, “Mungkin.”Dulu, saya dan mungkin sebagian besar orang masih menganggap konsep jodoh adalah konsep yang ‘udah dari sananya.’ Sebuah konsep di mana perempuan dan laki-laki diikat dalam ikrar suci pernikahan. Maka, orang-orang tua zaman dulu pasti sering berkata, “mereka itu emang jodoh” yang maksudnya si laki-laki dan perempuan sudah menjalani pernikahan dan menjadi suami istri. Konsep ini masih saya terima hingga suatu ketika saya memikirkan tentang adanya perceraian. Pikir saya saat itu kalau jodoh diartikan sebagai laku pernikahan, maka apakah mereka hanya berjodoh sebelum bercerai? Jadi kalau bercerai, berarti sudah tidak berjodoh lagi? Dan konsep jodoh pasti dikaitkan dengan satu perempuan dengan satu laki-laki. Jodoh berarti: tunggal. Tidak mungkin ada jodoh yang jamak. Saya kemudian berpikir lagi, kalau setelah bercerai dan menikah lagi, apakah berarti jodoh dia ada dua? Yang mana yang benar-benar jodoh? Pernikahan sebelum bercerai atau setelahnya?

Pertanyaan ini akhirnya memaksa saya untuk merenung. Saya ingin mendapatkan jodoh dalam artian sesungguhnya. Suatu waktu usai berdiskusi dengan dosen di salah satu institut keagamaan saya mendapatkan pekerjaan rumah untuk memahami kembali ayat yang intinya kira-kira berbunyi, “Dialah yang menciptakan langit dan bumi, siang dan malam.” Setelah itu saya merenung lagi, memikirkan bintang-bintang, galaksi, pejalan kaki di lampu merah, penjual es kelapa, gedung-gedung tinggi, semut-semut yang mengerubungi gula, denyut jantung, sel-sel tubuh dan lalu tiba-tiba terpikirkan,

“Gila! Luas betul alam semesta ini”

Dari sanalah saya semacam merasa mendapat pencerahan tentang tafsir jodoh ini. Saya yakin semuanya pasti berjodoh, mulai dari yang paling mikro sampai paling makro. Orang tua-orang tua kita juga sering mengatakan ini, “Ya kalau emang jodoh, rezeki pasti dateng ke kita.” Ya, rezeki pun juga jodoh. Artinya, jodoh adalah saat di mana A bertemu B. Sebuah Pertemuan. Ah, itu dia: Pertemuan!

Pertemuan artinya bukan sekadar bertemu, tatap muka, atau bercengkerama. Tapi Pertemuan (dengan P besar) membuat saya terkait erat dengan satu hal: Waktu. Di sini kita perlu berterima kasih banyak kepada Einstein yang menemukan konsep relativitas waktu. Dengan penemuannya ini, Einstein mematahkan teori Newton sebelumnya mengenai kemutlakan ruang dan waktu. Berbeda dengan pendahulunya itu, Einstein bilang ruang dan waktu itu relatif dan tak terpisah. Dari sana, ia berkesimpulan bahwa alam semesta ini terus mengembang. Karena terus mengembang, suatu saat pasti akan sampai pada titik keterhinggaannya.

‘Kesatuan ruang dan waktu’ ini mengantarkan kita pada Heidegger, si filosof Jerman itu. Pokok pemikirannya berkisar mengenai “ada” (being). Berkaitan dengan “ada”, Heidegger bilang “ada” tak bisa lepas dari waktu (sein und zeit).Manusia – atau dasein dalam istilahnya – adalah kesatuan antata masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Bagi Heidegger, waktu adalah rentangan di mana semua potensi kemungkinan bermunculan. Dalam setiap kemungkinan inilah akan muncul, pertemuan-pertemuan. Artinya, pertemuan ini tidak dapat dimutlakkan menjadi satu entitas absolut dalam sebuah rentangan waktu. Ia hanya menjadi kemungkinan atau potensi. Dan nantinya, kemungkinan atau potensi ini tidak akan pernah berhenti selama manusia hidup, ia berhenti saat manusia mati. Dalam kematian itulah manusia – dengan alam yang membersamainya – akan mencapai keterhinggaannya. Sejalan dengan pemikiran Einstein.

Jadi, saya berkesimpulan bahwa jodoh atau pertemuan adalah segala hal yang sedang berlangsung di alam semesta ini. Dan manusia sebagai makhluk yang berkesadaran-akan-dirinya harus melihat konsep jodoh dalam bingkai yang lebih luas, tak hanya urusan pernikahan: ekonomi, sosial, politik, budaya, kehidupan, kematian, dan lain-lain.

Lantas, bisakah pertemuan-pertemuan ini diabadikan? Atau ia hanya kesementaraan yang permanen?

Marcel Proust, penulis Prancis itu, mengangkat konsep waktu yang dapat abadi melalui seni. Dalam seni – umpamanya lukisan – warna, tekstur, atau bentuk yang dibuat pelukisnya berabad silam masih dapat kita rasakan secara intens. Karya-karya Affandi, Basuki Abdullah, van Gogh, Picasso, atau Leonardo da Vinci, misalnya, masih dapat kita maknai hari ini meski mungkin akan sedikit berbeda dari tujuan awal yang pelukis buat. Ya, begitulah seni. Batas-batas masa lalu, masa ini, dan masa depan seakan runtuh dalam sebuah karya. Dari sini seniman berhasil mencipta setiap jodoh atau pertemuan atau momen dalam waktu yang transenden.

Kita bisa saja menganggap dia jodoh kita, atau pekerjaan ini jodoh kita, atau kota ini jodoh kita, tapi tak ada pertemuan yang berlangsung selamanya; tak ada jodoh yang abadi. Entah nanti kita mati atau ia yang mati. Pada akhirnya keduanya akan sama-sama mati. Dan kita bisa saja mengabadikan jodoh atau pertemuan itu melalui seni, tapi sayang itu hanya citra. Hanya memorilah yang senantiasa hidup, ia sendiri tak lagi ada di pelupuk mata. Kita hanya bisa menganggap abadi, padahal ia pastilah selalu bersifat sementara. Ironi.

 

–from the whiteboard