Perempuan Perokok

Dalam novel Gadis Kretek, kisah Roro Mendut, rokok dijadikan sebagai simbol kebebasan dan tanda pemberontakan; atas sistem patriaki dan misoginis. Betapa dangkal isi kepala seseorang yang melabeli perempuan perokok itu “perempuan nakal” bahkan “murahan”, tidak kah bisa mereka lihat filosofi yang positif? Bahwa perempuan yang merokok merupakan salah satu bentuk pemberontakan atas ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan.

Rokok bukanlah parameter baik buruknya seseorang. Ya, rokok memang merugikan bagi kesehatan laki-laki dan perempuan. Rokok tidak baik  untuk siapapun; apapun jenis kelaminnya.

Saya sudah jenuh dengan mereka yang menilai karakter seorang perempuan dari rokok yang menyala di sela jari jemarinya. Mari kita sudahi “kesalahpahaman” ini. Kesalahpahaman yang mengurung kita dalam stereotip budaya yang negatif. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara atau usaha berhenti merokok untuk kesehatan diri yang lebih baik.

Berjarak 294km

Ngga pernah terbayang kita akan sedekat ini, tanpa segan menelepon untuk sekedar mengucap rindu. Kita sering bersama di tempat umum. Tempat makan, bioskop, kedai kopi, mall ngga heran orang menyangka kita ini pacaran.

Kita juga sering membahas pacaran jarak jauh. Dan aku selalu bilang kalau aku termasuk perempuan yang ngga bisa pacaran jarak jauh. Aku membutuhkan fisik, raga dan kehadiran. Telepon berjam-jam semalam suntuk, video call, chatting seharian tetap rasanya berbeda. Aku butuh raga untuk kupeluk secara nyata. Bukan cuma ucapan “Selamat pagi,” atau, “Aku rindu kamu.” Aku butuh bahu untuk bersandar setelah melewati hari yang penat. Aku butuh kehadiran yang meski sekedar menemani makan malam. Aku butuh fisik yang bisa dijangkau indera penglihatan.

Semoga aku dan kamu selalu dijauhkan dari segala yang dapat menjauhkan kita. Semoga aku dan kamu bisa saling menguatkan kita.

I love you
I will love you till I die
and if there’s life after that
I’ll stil love you then.

Stand by You

Aku tau. Aku tau kamu gelisah. Aku tau kamu risau. Namun aku tak bisa mengerti. Dan aku tidak akan bertanya. Menangislah. Marahlah. Keluarkan semua. Kenapa hanya mengirimkan kalimat panjang dalam chat untuk menuangkan perasaanmu? Itu tidak cukup. Meledaklah.

Ada debar sedih tiap kubaca isi chat mu, akhir-akhir ini. Aku mungkin tidak dapat mengukur seberapa dalam kerisauan dan keresahanmu, namun aku dapat merasakannya. Aku pun pernah mengalami masa gelap seperti itu. Kamu mungkin tidak menceritakan masalahmu secara detail pada ku namun alam bawah sadar tidak akan berhasil menyembunyikan sesuatu.

Aku mungkin jauh. Kita mungkin jauh. Tapi apa kamu tau? Do’a tidak pernah mengenal jarak. Kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Kekuatannya bahkan bisa memindahkan gunung. Jangkauannya melebihi jarak langit dan bumi. Maka hanya berdo’a yang bisa kulakukan saat ini. Mendo’akanmu. Tanganku mungkin tak bisa menyeka air matamu, mengusap punggungmu untuk menenangkan amarahmu tapi kuharap do’aku bisa. Lenganku mungkin tak bisa memelukmu, tapi kuharap do’aku bisa. Jemariku mungkin tak bisa membelai lembut rambutmu, tapi kuharap do’aku bisa.

Dunia nyata memang memisahkan kita. Ada beberapa kota yang berdiri berjajar memisahkan kamu dan aku. Tapi di dunia quanta kita saling berpelukan. Jangan terbenam dalam dunia nyata.. Seperti yang kubilang, reality is an illusion. Sebenarnya kita sedang bersatu. Kita dan berbagai harapan lainnya. Harapanmu dan harapanku. Semua saling memeluk.

Apapun yang terjadi, kemanapun kamu melangkah, dimanapun kamu berada, dan kemanapun masa depan akan membawa kita,

I’ll stand by you.

 

 

Your girl(space)friend

Mine

Tubuhku sedikit gemuk, parasku tak begitu cantik, rambutku pendek, tak pandai memakai makeup pun.

Penggemar sepak bola, penikmat kafein, gemar membaca.

Yass I am not that girly..
Hampir semua teman dekatku adalah lelaki, alasannya? Nyaman. Karena aku tidak perlu menjadi orang lain untuk diterima apa adanya diri. Tidak juga membutuhkan skenario untuk menyamarkan rasa tidak enak untuk menolak/membantah. Penilaian mereka terhadap ku begitu natural. Pun mengajariku menilai sesuatu hal dari berbagai sudut pandang. Mengajak ku keluar untuk menonton bola, bermain play station, sekedar menyecap kafein di pagi siang malam dini hari pun. Mengendap-endap keluar rumah pukul 12 malam, dan pulang menjelang subuh. Tidak. Mereka tidak mengajakku pergi mabuk-mabukan menginap di hotel freesex atau ngedrugs, kami asyik melepas penat bertukar fikir mengkritisi mendebat kebijakan menertawai kebodohan kisah cinta yang memuakkan.

Beranjak dewasa memaksaku mengkoleksi lipstick, memilih bedak yang match dengan skintone, tidak lupmakai day-night cream sunblock etc. Sebelumnya aku diajarkan untuk terbiasa memakai deodorant parfum body lotion sedari duduk di bangku sekolah dasar, disela kesibukannya kira-kira begitu cara mamah memperkenalkan bagaimana seharusnya menjadi perempuan kepada ku.

Ternyata cukup melelahkan tumbuh dan besar menjadi seorang wanita ya? Pikirku. Oh bukan aku menyesali diri karena terlahir sebagai seorang perempuan. Aku hanya merasa terbuai rasa nyaman tumbuh bersama sosok lelaki; bapak dan teman-teman lelaki. Bermain playstation membicarakan otomotif menonton club sepak bola kebanggaan menyecap kafein bebas membicarakan apa saja. Bersama mereka jauh berbeda saat bersama dengan perempuan yang saat berkumpul sebatas bergunjing perempuan lainnya, dengan hampir seluruh isi pembicaraan tentang hal-hal menye.

Merawat diri rutin aku lakukan di rumah, facemask hairmask lulur pijat. Iya anak rumahan. Politik dan feminisme adalah beberapa hal yang membuatku antusias. Sayangnya tidak semua perempuan dan sebaya ku juga tertarik. I do love girly things but I do not like to talk about it all night long. I am not that type to talk about guy all day long. See? Sah sah saja orang menganggap ku perempuan yang berbeda (baca: aneh) cause I do not even care


I enjoy being my self. 🙂

Jangan lupa menjadi tegar, dik

Untuk adik,

Sehat sehat ya.. Jangan lupa untuk menjadi tegar. Maaf tentang percakapan tempo hari ditelepon yang membuatmu ikut menitikan air mata, I just love to share anything with you. Sering kali aku mengabaikan pesan Pap untuk tidak membagi kesedihan dan kekhawatiran agar adik bisa tetap berkonsentrasi meraih gelarnya, tetapi kelopak mata ini tak bisa membendung derasnya air mata seorang diri.. Walau inti permasalahan dalam diri tak pernah bisa aku ceritakan, aku cukup merasa lega jika adik yang mendengarkan suara tangis ini.

Hampir empat tahun sudah kita dipisahkan oleh jarak, masih begitu melekat dalam sanubari hari-hari yang dulu selalu kita rangkai bersama. Adik yang selalu kupeluk cium kubuat tangis marah kecewa tidak akan pernah selalu ada disetiap rangkaian hariku lagi, adik hampir genap menuju dewasa.. Sudah berbenah kesibukan dengan rekan-rekan candradimuka, bersama lelaki yang adik sayangi, dan segala kesibukan yang aku tidak tau pasti. Saat jarak menghalangiku untuk menjagamu, aku selalu berdoa agar adik dikelilingi oleh orang-orang yang baik.. Entah, aku selalu tak bisa mempercayai begitu saja kepada orang lain untuk menjaga adik. Selalu tak bisa tenang jika adik pergi tanpa aku

Tawa yang tiap hari kutunjukan kepada mereka, bukanlah tawa bahagia seutuhnya jika itu tanpamu. Dihari bahagiaku esok kuharap adik ada untuk sekedar menghadiahi pelukan hangat.. Aku takut dipertemuan kita selanjutnya adik datang diiringi rintikan air mata dan duka cita. Ah lupakan saja dik, tetap tegar menyambut masa depan dengan atau tanpaku.

Salam sayang selalu,

Dari ku yang selalu adik panggil TetiIMG_20150830_222917_-1204823145

We All Start As Stranger

Nemu jodoh…
Wait! Jodoh?
Disaat saya boro-boro memikirkan jodoh, justru saat itu Tuhan beri jalan untuk mengenal seseorang dengan lebih dalam.

Oh, bukan..
Mungkin begini,
Tuhan membukakan pintu hati saya untuk seseorang.
Tuhan benar-benar Maha Mengagetkan. Maha tidak terduga,


dalam perjalanan pulang dari perantauan dengan rambut lepek muka berminyak lipstick memudar snikers belepotan setelan baju ala kadarnya didalam rangkaian gerbong kereta, seseorang itu duduk tepat satu bangku dengan saya dengan tempat tujuan yang sama.

Rendah Dalam Sujud

Bukankah aku sudah cukup terlatih?
Bukankah aku sudah cukup dibanting-banting laksana bergulat dengan gulungan gelombang pasang dalam menjalani hidup?

Satu yang selalu ku tekan kan dalam diri,
Merendah sampai berada di titik terendah sampai tiada lagi yang bisa merendahkan.

Jika tidak ada bahu untuk bersandar,
Selalu ada lantai untuk bersujud.

Bukan untuk menengadah pada-Nya untuk meringankan berat beban
Hanya tersedu sedan agar Ia menguatkan pundak untuk ku pikul segala cobaan